Friday, October 9, 2020

Tantangan Melatih Kemandirian Demi Masa Depan

 



Assalamu'alaikum.

Tabik pun,

Tantangan melatih kemandirian Bunda Sayang Ibu Profesional sudah dimulai pada 1 Oktober 2020 yang lalu. Namun saya baru memulai menuliskan jurnal tantangan setelah hari ke-8. Saya memang sudah lama melatih kemandirian anak-anak. Meski demikian mendokumentasikan atau menuliskannya ke dalam jurnal barulah hari ini. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Lagipula, bukan bermaksud menunda-nunda mengumpulkan laporan hasil tantangan yang sudah dilakukan. Saya memang masih belum bisa menyesuaikan diri dengan dinamika situasi pandemi Covid-19, seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya, manajemen waktu dan emosi saya masih berantakan.

Memiliki tiga orang anak yang ketiganya masih berada di rentang usia 0-6 tahun memang butuh kesabaran yang tinggi. Jika pada tantangan sebelumnya, yaitu Komunikasi Produktif saya melibatkan si sulung, untuk tantangan Melatih Kemandirian ini saya melibatkan anak kedua saya. Saya menganggap si sulung sudah cukup mandiri untuk anak seusianya, meskipun terkadang dia bersikap manja. Awalnya saya memang ingin melibatkan si sulung untuk melatih kemandirian dalam hal uang. Saya ingin dia mulai mengetahui makna uang dan bagaimana cara mendapatkan uang. Karena si sulung memang masih belum terlalu mengerti bagaimana menghargai uang maupun benda yang dia beli. Akan tetapi setelah saya pertimbangkan kembali, akhirnya si tengah yang dilibatkan dalam tantangan ini.

Bagi saya melatih kemandirian bukan hanya untuk bekal dia saat orang tuanya sudah tiada, tapi juga sebagai bekal dia menghadapi masa depannya. Mbak M pada bulan Oktober ini  genap berusia 5 tahun. Saya sudah melatihnya mandiri untuk beberapa pekerjaan. Mbak M termasuk anak yang manja dan dia pintar merayu orang-orang yang ada di sekitarnya agar mengikuti apa yang dia inginkan. Dia juga termasuk tipe yang memiliki ketetapan hati yang kuat, sehingga sedikit sulit untuk bernegosiasi terhadap keinginannya. Dia butuh waktu yang lama saat mandi, mengenakan pakaian, atau makan sendiri. Dengan situasi ini kadang orang di sekitarnya greget dan akhirnya membantu bahkan menggantikan pekerjaan yang seharusnya dia lakukan sendiri.

Temuanku

Pagi ini Mbak M masih belum bisa bangun lebih pagi. Setelah bangun tidur, butuh beberapa waktu untuk beranjak dari tempat tidur. Seperti biasa, setelah bangun, saya memintanya untuk mandi.

Strong why

Mandi sendiri mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan terutama kebersihan tubuh. Selain melatih kemandirian, mandi sendiri juga bisa meningkatkan rasa percaya diri pada anak untuk melakukan banyak hal.

Strategi untuk melatih kemandirian

Saya memberikan pemahaman bahwa mandi bisa membuat badan sehat dan segar.  Mbak M sudah 5 tahun harus mulai membantu meringankan pekerjaan umminya. Dengan mandi sendiri, maka Mbak M sudah membantu umminya.

Sukses apa aku hari ini

Mbak M mandi sendiri meski dibantu oleh saya.

Tantanganku saat ini

Mbak M bersikeras tidak mau mandi sendiri. Akhirnya saya sedikit mengalah. Saya membantunya mandi, lalu saya memintanya untuk menggosok gigi. Saya tinggalkan dia untuk melanjutkan memasak. Kemudian dia dengan leluasa bersenandung sambil menggosok gigi

Ingin sukses apa esok hari

Semoga esok bisa lebih baik lagi. Saya bisa lebih meninggikan daya tawar saya dalam bernegosiasi sehingga dia mau mandi sendiri.

Rasaku hari ini

Perasaan saya hari ini sedikit kecewa karena saya masih belum bisa menemukan cara agar Mbak M mau mandi sendiri tanpa bantuan umminya.

Respon ananda

Mbak M senang karena umminya mau membantunya mandi dan bisa bersenandung sambil menggosok gigi.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih