Saturday, September 12, 2020

Tantangan Pertama Bunda Sayang Hari ke-6

 


Assalamu'alaikum.

Tabik pun,

 

Akhir-akhir ini saya melakukan hal yang tidak biasa dilakukan. Kesibukan selama bulan kemarin dan puncaknya bulan ini membuat jenuh merajalela dan untuk meringankannya, saya berselancar di dunia maya. Biasanya saya mencari tentang artikel ilmiah, namun kali ini saya membaca berita tentang selebritis. Lucu ya? Tapi saya dapat sesuatu. Ada berita tentang selebritis yang akhirnya berhasil hamil stelah penantian selama 10 tahun. Mereka menyebutnya pejuang dau garis biru. Mereka berupaya dengan berbagai cara. Saya kemudian jadi teringat akan kisah beberapa orang yang saya kenal yang juga menanti buah hati bertahun-tahun. Ada yang bahkan sampai menghabiskan uang yang tak terhitung lagi banyaknya. Saya sungguh tertegun.

 

Saya dan suami tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan buah hati. Alhamdulillah. Memiliki anak adalah anugerah terindah bagi sebagian besar pasangan yang menikah. Tapi sesungguhnya memiliki anak bukanlah sebuah prestasi. Anak adalah amanah yang mesti dijaga dengan sepenuh hati. Hanya saja tak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Sebutan ibu dan ayah langsung melekat begitu saja. Hal ini menjadi renungan bagi saya. Begitu mudahnya Allah memberikan kami anak, bahkan ada kekhawatiran akan lahir anak lagi dan lagi jika tidak dibatasi. Tapi apakah kami sudah menjadi orang tua yang sehatusnya? Pertanyaan yang sampai saat ini masih harus terus dipertanyakan, sebagai pengingat agar kami terus belajar menjadi orang tua yang bisa menjaga, merawat, dan mendidik anak-anak secara baik dan benar.

 

Menjadi orang tua tidaklah mudah. Seringkali dihadapkan pada realita yang tak sesuai dengan harapan, kenyataan yang tak semudah angan-angan. Tantangan komunikasi produktif Ibu Profesional Batch #6 ini memaksa saya untuk belajar menghadapi kenyataan yang tak sesuai harapan tadi. Saya termasuk orang yang jarang berbicara. Saya lebih suka menuliskan perasaan saya dari pada membicarakannya. Ketika saya jadi seorang ibu, saya menjadi orang yang banyak bicara. Kadang terjadi kesalahan pada saat berkomunikasi dengan suami maupun anak-anak. Saya menyampaikan apa yang ada di pikiran maupun perasaan dengan serta merta, karena mungkin tidak terbiasa unuk menyusun kalimat dengan pilhan kata yang tepat dalam waktu singkat. Tidak ada tombol hapus saat kalimat keluar dari mulut.

 

Hari ini saya mencoba untuk fokus pada solusi bukan pada masalah dalam komunikasi produktif. Tanpa sadar, kadang kita terlalu dikuasai oleh ego diri atau mungkin emosi sesaat. Sehingga kalimat yang keluar dari mulut kita adalah kalimat yang tdak atau kurang tepat. Maksud hati ingin menanamkan nilai yang baik pada diri anak, namun yang terjadi kita memberikan contoh yang tidak baik pada anak. Astaghfirullah. Saya mencoba untuk tidak melakukan kesalahan komunikasi yang seperti tiu lagi.

 

“Ummi penghapus aku mana?” Tanya si sulung.

 

“Kamu menaruhnya di mana? Saya bertanya balik.

 

“Aku kemarin taruh di sini, di atas meja. Tapi sekarang gak ada.” Jawab si sulung sedikit kesal.

 

“Kamu sih kalau punya barang ditaruh sembaragan. Pas kamu mau pakai bingung nyarunya. Makanya naruh penghapus, pensil, alat-alat tulis itu di tempatnya.” Saya mencercau.

 

Percakapan seperti itu yang sering saya lakukan sebelumnya. Niat saya baik, agar si sulung menaruh barang miliknya di tempat yang sudah disediakan, tidak sembarangan. Namun dengan kalimat cercauan saya itu malah membuat suasana menjadi tidak nyaman. Si sulung kesal karena tak menemukan barang yang dicari. Sudah tentu si sulung tidak dapat pesan baik yang ingin saya sampaikan. Saat itu saya hanya fokus pada masalah bukan solusi. Hari ini saya mencoba memperbaiki pilihan kata saya.

 

“Ummi, mobilan remot aku mana?” Tanya si sulung.

 

“Kamu taruh di kamar, kan?” Saya memastikan.

 

“Iya, tapi gak ada.” Timpal si sulung.

 

“Coba kamu tanya abi, mungkin disimpan abi.” Usul saya.

 

Beberapa menit berlalu, si sulung sudah memegang mobilan dan remotenya.

 

“Mas, mobilannya ketemui di mana? Tanya saya.

 

“Di lemari. Abi yang naro.” Jawab si sulung.

 

“Nanti selesai kamu main, mobilan dan remotenya taruh lagi di lemari ya.” Saya mengingatkan.

 

“Iya, Ummi.” Si sulung menanggapi dengan ceria.

 

Yeay. Alhamdulillah sepertinya pesan tersampaikan dengan baik. Memang sudah sepantasnya orang tua mengingatkan anaknya selalu. Jika anak lupa, diingatkan dengan cara yang baik, semoga dia tidak mengulang kesalahan yang sama. Niat yang baik, dilakukan dengan cara yang baik, maka hasilnya sudah tentu baik. Sebaiknya niat yang baik, jika disampaikan dengan cara yang kurang atau tidak baik, maka hasilnya tentu tidak baik. Bintang 4 untuk tantangan pertama komunikasi produktif hari ke-6. Semoga esok lebih baik lagi.


Baca juga:

Tantangan Pertama Bunda Sayang Hari Ke-5

Tantangan Pertama Bunda Sayang Hari ke-3

Tantanga Pertama Bunda Sayang Hari ke-1

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih