Saturday, September 12, 2020

Tantangan Pertama Bunda Sayang Hari Ke-5

 

Assalamualaikum.

Tabik pun,

 

Menjalani tantangan Bunda Sayang Ibu Profesional Batch #6 bukanlah hal yang mudah bagi saya. Apalagi saya termasuk orang yang tidak terlalu tertib dalam mendokumentasikan sesuatu. Ada sedikit beban saat harus menuliskan apa yang sudah dilakukan setiap hari dalam tantangan komunikasi produktif ini. Sebenarnya mendokumentasikan apa yang sudah dilakukan seperti menulis buku harian. Menceritakan apa saja yang terjadi dan apa yang dirasakan. Namun kadang gak mudah mengurai kejadian menjadi untaian kalimat. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya, selain melatih komunikasi produktif juga melatih mendokumentasikannya ke dalam jurnal harian.

 

Menuliskan apa yang sudah saya lakukan saat menjalankan tantangan komunikasi produktif Ibu Profesional membuat saya banyak merenung. Saya kembali mengingat apa saja yang saudah saya lakukan selama ini untuk anak-anak saya. Saya mencintai mereka dan menginginkan hal yang terbaik untuk mereka, akan tetapi sepertinya banyak hal yang harus diperbaiki. Mengubah hal yang terbiasa dilakukan bukanlah perkara mudah. Kadang ada pergulatan dalam diri atas apa yang biasa dilakukan dan apa yang seharusnya dilakukan. Berkomunikasi adalah suatu keaslian yang harus selalu diasah secara terus-menerus. Saya berharap dengan menjalani tantangan Bunda Sayang Ibu Profesional ini ada perubahan yang signifikan terhadap diri untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi.

 

Kesalahan yang sering saya lakukan adalah mengatakan pada anak apa yang tidak diinginkan daripada apa yang sebenarnya diinginkan. Kadang saat berbicara, banyak pilihan kata yang kurang atau tidak tepat untuk disampaikan. Alih-alih pesan dapat tersampaikan dengan baik, pesan yang ingin disampaikan hanya berlalu begitu saja. Apalagi anak-anak memiliki gaya komuikasi yang unik. Saya harus selalu mengingatkan diri sendiri bahwa bukan anak yang harus memahami orang tua, namun orang tuanyalah yang harus memahami anak-anaknya. Tak bisa dielakkan lagi jika orang tua adalah role model bagi anak-anaknya. Role model merupakan sosok yang dijadikan contoh. Anak-anak tentu saja akan meniru gaya orang tuanya dalam bertindak, berperilaku, dan berbicara. Saya pun pernah beberapa kali disadarkan saat anak-anak berbicara mirip dengan gaya saya. Saat menegur, saya sering menggunakan intonasi yang kuat dan si sulung melakukan hal yang sama terhadap adiknya. Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini dan bantulah hamba dalammemperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah hamba lakukan terhadap anak-anak hamba. Aamiin.

 

“Ummi gak mau ya kamu main aja kerjaannya. Gak tertib. Mainan berserakan di mana-mana. Senang apa melihat rumah bernatakan kayak kapal pecah. Awas ya nanti ummi buang semua mainan kamu.” Ujar saya panjang lebar dengan nada yang cepat dan intonasi yang agak tinggi suatu ketika.

 

Kalimat seperti itu yang sering kali keluar saat saya terpancing emosi saat si sulung tidak mau menuruti apa yang saya perintahkan. Pilihan-pilihan kata seperti itulah yang saya coba untuk mengubahnya. Saya mencoba memilih kata-kata yang lebih tepat dan lebih nyaman saat terdengar di telinga. Saya menyadari bahwa bukan sekedar apa yang diperintahkan dilakukan oleh anak, namun membuat anak melakukan apa yang diperintahkan oleh orang tuanya dengan suka rela sehingga kebahagiaan selalu menyertai mereka.

 

 “Mas, beresin mainan kamu. Kalau rumah rapi, enak dilihat kan?” Saya mencoba mengatakan apa yang saya inginkan.

 

“Iya nanti. Aku kan masih pengen main.” Jawab si sulung masih fokus dengan mainannya.

 

“Udah dulu mainnya. Istirahat. Yuk kita bereskan mainannya.” Pinta saya lagi.

 

“Ih masak aku beresin sendiri mainannya. Adek aja ikut berantakin mainan.” Si sulung masih menolak untuk membereskan mainan.

 

“Ummi pengen kamu membereskan mainan. Adek juga pasti mau ikut beresin mainan. Yuk, kita bereskan mainan sama-sama.” Ucap saya lagi.

 

Saya mencoba menggunakan kalimat yang beresiko sebenarnya. Dengan kalimat itu, saya harus ikut membereskan mainan bersama anak-anak sehigga saya harus meninggalkan pekerjaan saya. Membersamai anak memang tidak bisa dilakukan dengan nyambi pekerjaan lain. Anak-anak akan selalu membutuhkan perhatian dari orang tuanya. Saya harus mengalahkan ego saya untuk berhenti sejenak dari pekerjaan lain. Hari ini saya melatih diri lagi. Berkomunikasi bukan hanya sekedar tersampaikannya pesan. Memberikan perintah juga tak sekedar dituruti. Membuat anak bahagia itu sebenarnya tujuan utama. Di dalam  rasa bahagia itu ada suka rela, rasa ikhlas, dan tanggung jawab dalam melakukan sesuatu. Hari ini saya mencoba hal yang tidak biasa dilakukan. Semoga esok bisa lebih baik lagi.


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih