Sunday, September 6, 2020

Tantangan Pertama Bunda Sayang Hari Ke-4



Assalamu'alaikum.

Tabik pun,

Komunikasi produktif perlu latihan terus-menerus. Komunikasi produktif merupakan keahlian yang butuh kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Di Bunda Sayang Ibu Profesional, komunikasi produktif menjadi tantangan pertama yang harus dilakukan oleh setiap perserta.

Tantangan pertama hari ke-4 masih belum saya rasakan perubahan yang berarti dalam komunikasi saya dengan anak-anak. Saya masih harus terus mengendalikan emosi agar tidak terlalu meluap, berusaha melapangkan hati dan menjernihkan pikiran disaat berbicara. Menangani anak sendiri kadang tak semudah menangani anak orang lain. Kadang-kadang ada rasa kepemilikan yang berlebih sehingga melakukan hal yang terlalu berlebihan. Sikap terlalu sayang tanpa disadari sering hadir, saat berinteraksi dengan anak-anak, akibatnya menimbulkan manja yang berlebihan pada anak-anak.

Sepertinya ada yang perlu saya perbaiki, namun saya belum menemukan. Pagi ini, si sulung sangat kooperatif. Dia meminta abinya untuk menyimak hapalannya setelah belajar sepeda, mandi pagi, dan sarapan. Mandinya pun tak banyak sambil bermain seperti biasanya.

"Ummi, aku sudah hapalan. Boleh ya main hape, ini kan hari Minggu?" Si sulung bertanya dengan serius.

Semenjak ada bekerja dari rumah dan belajar dari rumah, telepon pintar menjadi kebutuhan. Sebelumnya, telepon pintar dan gadget lainnya bisa saya sembunyikan, tapi sekarang tidak bisa. Sebenarnya sebelum covid-19, si sulung memiliki kebebasan untuk menggunakan telepon pintar pada hari Minggu, namun setelah covid-19, kami sempat kewalahan, karena setiap hari kami menggunakan telepon pintar dan anak-anak melihatnya. Tentu saja anak-anak semakin besar keinginannya untuk bisa menggunakan telepon pintar sesering mungkin seperti kami. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit anak-anak bisa kami beri pengertian, akhirnya mereka mau mengerti.

"Mas, 10 menit lagi berhenti main hape ya." Saya mulai memberikan peringatan.

"Iya." Jawabnya singkat sambil tetap menatap ke telepon pintar.

"Mas, 5 menit lagi ya. Istirahat." Saya kembali memberi peringatan batas penggunaan telepon pintar.

"Nanti, Mi. Nanggung ini." Dia mulai gusar.

"Oke, sudah selesai. Taruh hapenya lalu tidur siang."

Si sulung menaruh hape di dalam lemari sambil memasang wajah cemberut. Entahlah apakah saya sudah berhasil menerapkan komunikasi produktif, karena saya belum bisa mengubah wajah cemberutnya menjadi gembira. Pesan tersampaikan dengan baik dan dilaksanakan, namun rasa ikhlas belum muncul. Semoga esok lebih baik.


Sebelumnya di Tantangan Pertama Bunda Sayang Hari Ke-3

Baca juga Tantangan Pertama Bunda Sayang Hari Ke-2

Tantangan Pertama Bunda Sayang Hari Ke-1


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih