Wednesday, September 16, 2020

Si Sulung dan Tantangan Bunda Sayang

 


Assalamu’alaikum.

Tabik pun,


Tantangan hari ke-8 Komunikasi Produktif Bunda Sayang Ibu Profesional. Setelah melatih diri selama beberapa hari ini, apa yang saya rasakan? Ada sedikit perubahan dalam diri saya, namun masih harus banyak berlatih lagi. Agak sedikit letih yang saya rasakan karena sepertinya latihan yang saya lakukan belum mendapatkan hasil maksimal. Berkali-kali saya meyakinkan diri kembali bahwa latihan ini adalah proses panjang yang membutuhkan komitmen. Pembentukan karakter yang baik tidak bisa terjadi serta merta. Oleh karena itu saya harus selalu menyakinkan diri agar terus-menerus berusaha maksimal dalam setiap proses yang saya jalani.


Si sulung suka membuat saya terkejut dengan prestasi yang dia buat. Saya pernah mengira bahwa dia belum bisa menulis karena dia sering kali tampak tidak serius dalam belajar. namun alangkah kagetnya saya, suatu ketika dia marah dengan adiknya, dia menuliskan perasaannya di dinding. Bukan teman aku, tulisnya suatu ketika. Dia pun termasuk orang yang pedui, pernah suatu saat, adiknya main entah kemana. Sibuklah kami mencarinya.

“Mas, kamu jangan main lagi.” Ucap Pakdenya saat itu.


“Aku mau cari mba kok.” Protesnya.


Pernah juga di suatu sore, kami meninggalkan sebentar sulung dan adiknya di rumah. Kami pergi sebentar membeli sesuatu. Saat kami pulang, rumah sudah rapi. Rupanya si sulung bersama adiknya berinisiatif untuk merapikan mainan mereka yang berserakan. Pernah juga ia memarahi adiknya karena bermain dengan anak laki-laki. 


Saya pernah juga dibuatnya terkejut karena dia bisa menyelesaikan tugas dari sekolah dengan baik. Waktu itu dia diminta untuk menuliskan nama-nama temannya berdasarkan video yang dikirim oleh teman-temannya melalui WA grup. Padahal saat itu saya tertidur karena menemani si bungsu tidur. Dia pun pernah membacakan buku cerita untuk adik-adiknya, tanpa saya minta. Begitulah si sulung. Jiwa kepemimpinannya sudah mulai terlihat, rasa tanggung jawabnya pun sudah mulai tumbuh. Hanya saja mungkin saya dan abinya belum maksimal dalam mengarahkannya.


“Mas, kamu kok mukul adikmu?” Tanya saya suatu ketika.


“Dia ngomongnya sembarangan sih.” Jawab si sulung kesal.


“Coba kamu dipukul? Mau gak?” Tanya saya lagi sambil memukul.

Mungkin saya terlalu berlebihan, saya hanya ingin menunjukkan pada anak-anak bahwa dipukul itu tidak enak maka janganlah memukul. Namun sepertinya saya salah. Alih-alih saya menegurnya, dia malah mencontoh tindakan yang saya lakukan. Astaghfirullah. Sering kali saya lupa bahwa dia masih kecil. Teman yang seumuran dengannya saya lihat masih sangat manja dengan orang tuanya. Sementara si sulung karena dia sudah memiliki dua orang adik, meski umurnya masih 6 tahun, kadang saya memperlakukannya lebih dari usianya.

Saya mencoba untuk memperbaiki sikap dalam menghadapi suatu masalah. Saya ingin si sulung mencontoh baik yang saya lakukan. Sikap yang tidak/kurang saya sukai dari si sulung bisa jadi karena kami, sebagai orang tua yang membentuk secara sadar maupun tidak sadar.

“Adek, jangan dirobek bukunya. Ih adek ini nakal.” Teriak si sulung pada adiknya yang bungsu.

“Adek, sini bukunya sayang.” Pinta saya dengan lembut.

“Ummi, itu kan buku buat dibaca bukan buat dirobek.” Protesnya.

“Iya, Mas. Adek itu belum ngerti. Kita harus kasih tau adek dengan lembut, tidak boleh kasar ya.” Saya mencoba untuk memberi penjelasan.

Saya membereskan buku-buku yang berserakan. Saya sengaja mengumpulkan buku yang telah robek menjadi satu. Saya tidak pernah membuangnya, selain karena sayang dengan bukunya, ada nilai kenangan di dalamnya.

“Ummi, buku ini kenapa robek? Siapa yang merobeknya?” tanya si sulung.

“Mamas. Saat mamas masih kecil.” Terang saya.

“Ummi marah gak pas aku robek buku?” Tanyanya.

“Gak dong. Kan kamu waktu itu belum mengerti. Kamu masih seumur adek waktu itu.” Saya menjelaskan.

“Aku dulu suka merobek buku ya, Mi?” Tanyanya lagi.

“Tapi sekarang kan enggak karena Mamas sudah mengerti.” Jawab saya.

“Adek harus dikasih tau ya, Mi biar ngerti.” Ujarnya lagi.

“Iya. Kita harus ngasih tau dengan lembut ya.” Nasihat saya.

Hari ini saya kembali tersadar bahwa memang butuh waktu untuk memahami perasaan anak-anak, namun yang lebih utama adalah memahami diri sendiri. Dengan adanya tantangan Bunda Sayang yang mewajibkan pesertanya untuk mendokumentasikannya secara langsung memberikan ruang bagi saya untuk berbicara pada diri sendiri, memahami dan menyelami diri. Bintang 5 untuk hari ini, semoga esok lebih baik lagi.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih