Wednesday, September 16, 2020

Mengukir Kisah Komunikasi Produktif bersama Bunda Sayang

 


Assalamu’alaikum

Tabik pun,

Mengukir kisah dalam setiap proses sering tak sesuai dengan harapan. Jenuh akan mendera, lagi-lagi bukan karena tak sanggup untuk melalui tapi karena bertumpuknya masalah yang sulit untuk diurai. Putus asa menghampiri saya kemarin, pertanyaan telak menusuk kegelisahan. Mengapa saya tidak bisa menyelesaikan tantangan ini dengan baik?

Saya masih belum bisa menemukan pilihan kata agar komunikasi produktif dapat terwujud. Saya merasa gagal menyampaikan beberapa pesan. Sesungguhnya saya bersedih dengan situasi ini, apalagi saya tidak bisa mendokumentasikan apa yang sudah saya lakukan dalam memperbaiki komunikasi saya dengan anak-anak setiap hari. Tantangan pertama Bunda Profesional tidak bisa dengan sempurna saya kerjakan. Mungkin saya terlalu perfeksionis atau terlalu tinggi menerapkan indikator keberhasilan dalam tantangan ini sehingga saya sulit untuk mengedepankan bahagia dalam menjalani tantangan ini.

Sejak pandemi Covid-19  menguasai dunia, saya pun terkena dampaknya. Berulang kali saya mengeluh bahwa manajemen emosi dan waktu saya kacau balau sejak pandemi. Meski sudah new normal, di daerah saya kasus covid-19 meningkat, apalagi di lingkungan tempat saya bekerja juga ada yang menjadi korban. Ada rasa sedikit rasa khawatir terhadap wabah ini, namun yang lebih membuat saya merasa lebih khawatir adalah peran saya sebagai seorang ibu yang bekerja di ranah publik. Ada dilema saat meninggalkan anak untuk pergi bekerja, sementara situasi belum kondusif. Sekolah dari rumah menjadi tidak kondusif bagi anak-anak untuk belajar. Meski hanya 2 kali seminggu ada kewajiban untuk pergi ke tempat bekerja, akan tetapi di hari lainnya tetaplah berkutat dengan pekerjaan dalam balutan bekerja dari rumah.

Ingin rasanya saya melepas status ibu yang bekerja di ranah publik, tetapi tidak semudah itu. Ada tanggung jawab yang memang harus saya penuhi sebagai bentuk profesionalisme. Selain itu,  ada banyak pertimbangan lainnya. Kalau sudah begini, saya ingat akan ucapan seseorang yang pernah menghakimi saya karena memilih bekerja di luar rumah. Ah, jika ingat akan hal itu, saya menjadi semakin sedih. Bukankah kondisi dan situasi setiap orang berbeda?

Hari ini saya kembali  mencoba komunikasi produktif. Seperti biasa, setiap pagi anak-anak sarapan bersama didampingi oleh saya sambil saya menyuapi si bungsu.  Suasana riuh karena anak-anak sambil bersenda gurau, agak berlebihan memang.

“Mas, Mbak makan itu jangan sambil bercanda.” Tegur saya.

“Mas, makan itu jangan begitu, nasi disumpel-sumpel ke dalam mulut.” Ujar saya lagi.

“Sudah dong becandanya.” Saya masih mencoba menguasai diri karena anak-anak tak mau berhenti bersenda gurau sembari makan.

“Mas, makan yang bener dong. Kan mamas sudah tahu adab makan.” Saya kembali memperingatkan saat si sulung terlalu dekat dengan piring makannya. Sepertinya dia ingin terlihat lucu di depan adik-adiknya.

“Mas, Mba tau gak? Becanda saat makan itu bisa tersedak. Berbahaya.” Sudah kesekian kali saya mengomentari gaya makan anak-anak, tapi saya berusaha untuk menguasai emosi. Sesaat mereka terdiam, namun kemudian kembali bersenda gurau.

“Mamas dan Mba kok gak mau denger apa kata ummi?” Tanya saya agak sedikit kesal.

“Ummi dulu waktu kecil selalu mendengarkan apa yang diucapkan nenek dan kakek.”

“Ummi nurut sama kakek dan nenek ya?” Tanya si sulung.

“Iya. Selama yang diucapkan hal yang baik, harus kita ikuti.”

“Iya, Mi. Aku dah selesai makan.” Ucap si sulung.

“Nanti ummi mau lihat, pas makan siang adabnya dipakai gak.”

“Iya, Mi.” Si sulung beranjak dari tempat duduk dan menaruh piring bekas makannya di tempat cuci piring.

Semoga saja pesan tersampaikan dengan baik pada anak-anak. Saya mencoba  mengganti nasihat menjadi refleksi pengalaman. Namun sepertinya nasihat masih mendominasi daripada refleksi pengalaman. Besok coba lagi.

Menjadi orang tua tak ada sekolahnya. Saat saya hamil kemudian melahirkan, identitas seorang ibu melekat pada diri saya. Saya sering membaca buku atau artikel tentang parenting sebagai bekal saya sebagai seorang ibu, namun teori memang tak semudah praktik karena kondisi dan situasi setiap orang berbeda. Semua bergantung pada diri masing-masing.

Bintang 4 untuk hari ini. Saya selalu berusaha untuk menyelipkan doa. Allah yang berkuasa atas apa yang terjadi. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan bagi saya dan suami untuk membersamai, menjaga, merawat, dan mendidik anak-anak menjadi anak yang soleh, sukses, dan bahagia di dunia dan di akhirat. Setiap langkah, saya selipkan doa agar hidayah dan berkah selalu datang pada keluarga kami, terutama anak-anak.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih