Wednesday, September 16, 2020

Komunikasi Produktif bagi Anak yang Suka Adu Argumentasi

 


Assalamu'alaikum.

Tabik pun,

Masih tentang komunikasi produktif. Tantangan Bunda Sayang merupakan sarana bagi saya untuk melatih dan membiasakan diri hal-hal yang baik. Bagi saya memilih kata dalam tak semudah memilih kata dalam tulisan. Kondisi dan situasi yang berbeda tentu saja akan mempengaruhi bagaimana seseorang menyelesaikan masalahnya. Masalahnya saya memang sulit untuk berkata-kata secara langsung, meski saya biasa mengajar dan punya pengalaman mengajar dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Saya memang terkenal pendiam, tapi dalam situasi tertentu saya suka adu argumentasi. Kadang sisi penurut dan pemberontak hadir dalam satu waktu. Ada kekhawatiran sisi-sisi negatif yang ada pada diri saya menurun pada anak-anak saya. Katanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Meski mungkin bisa saja buah yang jatuh menggelinding, lalu terbawa arus sungai dan terdampar di tempat yang jauh. Hehe...

Sebenarnya menurut artikel yang pernah saya baca, orang tua harus mengapresiasi anak yang suka adu argumentasi. Bahkan kebiasaan adu argumentasi perlu dilatih pada anak-anak agar anak dapat berpikir kritis. Logika anak akan terbangun dan kecerdasan anak akan meningkat. Berpikir kritis merupakan langkah untuk berkata dan bertindak didasarkan atas sebab yang benar bukan hanya karena fanatik buta. Saya setuju dengan pendapat tersebut. Apalagi saat ini banyak orang yang berkata dan bertindak hanya karena ikut-ikutan. Banyak juga orang yang rela melakukan hal yang buruk atau mati-matian membela keburukan. Naudzubillah.

Kembali ke tantangan komunikasi produktif, hari ini saya melihat diri saya pada si sulung. Ingin rasanya menangis sekaligus tertawa.  Si sulung mengajak adu argumentasi saat diminta untuk mandi.

 "Mas, mandi kan mau belajar." Perintah saya ada si sulung.

 "Nanti sih , Mi." Jawab si sulung singkat. Dia masih fokus dengan mainannya.

 "Mandi biar segar, kan mau belajar." Ujar saya lagi.

 "Nanti belajar lewat zoom ya?" Tanya si sulung.

 "Nanti ustadzah video call Mamas." Jawab saya.

 "Jam berapa?" Tanyanya lagi.

 "Jam 8." Jawab saya.

 "Ayo dong mandi." Saya mengulang kembali perintah untuk mandi.

 "Gak apa-apalah gak mandi. Ustadzah gak tau kan?" Ujar si sulung.

 “Kan belajarnya  lewat video call, gak mandi gak kelihatan.” Saya sedikit tercengang mendengar perkataan si sulung.

 “Ustadzah gak cium bau aku.” Ujarnya lagi.

 “Tetap harus mandi, biar bersih, sehat, segar. Ayo mandi!” Pinta saya lagi.

 “Nantilah mandinya.” Bantah si sulung lagi.

 "Mas, mandi itu biar segar. Badan segar itu membantu kita fokus belajar juga."

 "Nanti sih, Mi." Si sulung masih tak ingin mandi. Umurnya sudah 6 tahun, tidak mungkin saya merayunya dengan main air atau main gelembung sabun.

 "Abi dah mau berangkat, masak kamu belum mandi." Saya mulai kehabisan kata.

 "Iya, Mi." Jawabnya singkat, namun masih saja tidak beranjak untuk mandi.

 “Ayo dong bergegas mandi, nanti kalau ada lalat yang mencium bau mamas terus ngajak kawan-kawannya untuk deketin mamas, gimana?”

 “Iya, Mi.” Jawab si sulung sambil membuka bajunya dan menuju ke kamar mandi.

Ah akhirnya selesai juga masalah mandi di hari ini. Sebenarnya Ini memang bukan pertama kalinya si sulung mendebat permintaan ummi dan abinya.Begitulah si sulung, kadang butuh energi lebih dalam berkomunikasi. Yang penting pesan sampai, perintah dilakukan dengan ikhlas dan bahagia. Bintang 5 untuk hari ini. Besok harus lebih baik lagi.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih