Monday, August 24, 2020

Menyelami Diri, Memahami Siapakah Aku

 

Assalamu’alaikum

Tabik pun,

 

Masih tentang tugas Pra-Bunsay Ibu Profesional. Kali ini saya akan menuliskan beberapa hal berkaitan dengan tugas tersebut. Setelah melewati Wahana Istana Pasir,  Wahana Surfing, Wahana Wake Boarding, dan sekarang Wahana Diving. Di wahana ini, kami diajak untuk merasakan ketenangan yang hadir saat menyelam di bawah laut.  Saya memang belum pernah merasakan secara langsung rasanya melaukan kegiatan tersebut, namun setidaknya saya tahu dari cerita orang-orang yang pernah melakukannya. Diving berarti menyelam, di sini kami diajak untuk lebih dalam menyelami diri sendiri. Menyelami diri untuk memahami siapakah aku.

 

Sedikit tentang Aku


Saya adalah seorang ibu yang memilih untuk menjadi ibu yang bekerja di ranah publik. Memang tidak mudah dan butuh energi yang luar biasa untuk melaluinya. Saya memahami bahwa setiap pilihan pasti memiliki risiko dan setiap orang punya kondisi dan situasi yang berbeda. Saya pernah berada dalam kondisi yang hampir putus asa karena si sulung yang saat itu berusia 2 tahun lebih nyaman bersama kakak ipar saya, yang sering mengasuhnya jika saya pergi bekerja. Ketika itu saya semakin tidak berdaya karena curhat pada orang yang salah. Dia menghakimi saya karena dianggap menyalahi kodrat sebagai ibu. Bukan solusi yang saya dapatkan, malah kesedihan dan kegelisahan yang saya dapatkan. Kemudian akhirnya, saya menyadari bahwa setiap orang memiliki pandangannya sendiri terhadap sesuatu.

 

Seiring berjalannya waktu, banyak kisah yang membuat saya semakin banyak belajar. Saya menemukan formula yang pas atas pilihan menjadi ibu yang bekerja di ranah publik. Semua berjalan aman terkendali. Saya mengerjakan semua urusan pekerjaan di luar rumah dan setelah samapai di rumah, saya fokus pada tugas saya sebagi istri dan seorang ibu. Anak-anak dan suami juga tampak bahagia. Setiap ada kesempatan kami selalu berbagi cerita apa saja. Setiap hari saya juga memasak, menyiapkan bekal untuk suami dan anak-anak. Pekerjaan domestik tak pernah terabaikan, meski tanpa asisten rumah tangga. Saya dan suami memang berkomitmen untuk bekerja sama dalam segala hal.

 

Sampai akhirnya Covid-19 merusak tatanan yang sudah saya buat. Semua urusan terpusat di rumah, bekerja dari rumah, sekolah dari rumah. Saya nyaris kewalahan menghadapi situasi ini. Saya hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak, belum lagi menghadapi kondisi anak-anak yang bosan di rumah saja. Ditambah juga dengan perfeksionis yang melekat pada diri saya. Emosi saya akhirnya menjadi tidak stabil. Kelelahan yang mendera membuat pikiran tidak bisa terbuka dan hati pun menjadi sempit. Rasanya ingin marah-marah, meluapkan semua yang ada di pikiran dan apa yang dirasakan. Namun sekali lagi saya belajar dari keadaan, manajemen waktu dan emosi adalah dua hal yang perlu diutamakan. Saya pernah melalui berbagai hal dan kali ini saya pasti dapat melaluinya dengan baik.

 

Ibu Profesional dan Aku

 

Saya bersyukur karena mengenal Ibu Profesional. Dulu, sebelum mengenal Ibu Profesional, saya memang pernah mengalami fase nyaris putus asa, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, bukan karena masalah yang utama terjadi, namun karena saya salah berbagi cerita dengan seseorang. Kala itu saya memang merasa sendiri. Saya merasa malu jika bercerita pada orang-orang yang kenal dekat karena ini adalah aib. Akhirnya malah bercerita pada orang yang baru saja saya kenal. Setelah bergabung di Ibu Profesional, ada energi baru yang memenuhi ruang diri saya. Saya mengenal banyak orang dengan beragam latar belakang, saya banyak belajar dari mereka bahkan tanpa harus bertatap muka secara langsung. Ada grup WA yang setiap hari menyapa, apalagi sekarang ada grup FB Ibu Profesional yang di mana saja dan kapan saja bisa dilihat, yang memberikan postingan bermanfaat sehingga memberikan energi positif yang luar biasa. Di Ibu Profesional bukan bertujuan menduplikasi Ibu Septi, namun menemukan keunikan pada diri seorang ibu.

 

Ibu Profesional memberikan sisi lain dalam melihat sesuatu. Ada hal yang sangat berbekas dalam pikiran saat saya mendengarkan salah satu video Bu Septi, yaitu belajar bahagia. Belajar bahagia bukanlah hal yang baru, namun saya sering abai terhadap itu. Saya sering melakukan sesuatu demi kebahagiaan orang lain tanpa memperdulikan kebahagiaan diri, sehingga kadang overload pekerjaan yang mengundang kelelahan yang sangat. Belajar bahagia atas apa yang dilakukan tampak mudah dikatakan, akan tetapi tidak mudah untuk dilakukan. Apalagi jika memiliki standar kebahagiaan yang terlalu di awang-awang, sulit digapai. Padahal kebahagiaan tidak melulu berdasarkan kemewahan, kebahagiaan tidak juga diukur dari penilaiain orang lain. Kebahagiaan terletak pada apa yang dirasakan. Kebahagiaan merupakan salah satu bentuk syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Yang Maha Pemurah. Sampai saat ini pun, saya masih belajar bahagia.

 

Ibu profesional merupakan tempat untuk tumbuh kembang para ibu secara bersama-sama. Para ibu saling menyemangati untuk terus mengembangkan diri sesuai dengan potensi dan kondisi masing-masing. Saya berharap bisa terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saat ini saya memilih untuk menjadi ibu yang bekerja di ranah publik dan saya harus belajar untuk bahagia atas pilihan itu. Saya memiliki angan-angan untuk berbuat sesuatu di lingkungan tempat saya tinggal, semoga bisa terlaksana dengan segera. Selain itu, ada juga keinginan berperan di komunitas Ibu Profesional, agar lebih banyak lagi para ibu yang merasakan manfaat dari keberadaan Ibu Profesional.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih