Monday, August 24, 2020

Meniti Ilmu, Menuju Cita Bersama Ibu Profesional

 

Assalamu’alaikum

Tabik pun,

Hai semua, saya akan kembali berkisah tentang Pra Bunsay (baca: bunda sayang) Ibu Profesional Lampung. Setelah melewati Wahana Istana Pasir, lalu Wahana Surfing, sampailah pada Wahana Wakeboarding. Pada wahana ini kami diminta untuk menuliskan ilmu yang ingin dipelajari, ditingkatkan, dilatih serta dibagikan. Kemudian menuliskan juga kemungkinan tantangan dan solusi untuk menghadapinya. Di wahana ini saya sempat tertahan, berbagai alasan menjadi pembenaran. Tapi sungguh, bukan bermaksud mengada-ada. Keadaan masih belum terkendali, manajeman waktu dan emosi saya masih tertatih-tatih pasca dihantam situasi global  pandemi. Dengan penuh semangat, mulai mengingat kembali cita-cita dan harapan saya di masa depan, Alhamdulillah semangat saya bisa melalui wahana ini. Lalu apa hasil yang saya dapatkan dari wahana ini?

Saya memulai interaksi dengan Ibu Profesional saat mengkuti Matrikulasi Batch #5 Ibu Profesional. Saya melalui tahap perkuliahan dan berhasil lulus matrikulasi. Kesan pertama saya adalah takjub karena saya kemudian mengenal banyak orang dengan latar belakang yang beragam namun memiliki visi yang sama yaitu menjadi ibu yang profesional.

Ilmu yang ingin dipelajari, dilatih, dan dibagikan

Saat ini saya memilih untuk menjadi ibu yang bekerja di ranah publik dan setiap pilihan sudah tentu mengandung risiko. Saya selalu berupaya untuk bahagia dengan pilihan saya dulu, kini, dan nanti. Penyesalan atas sebuah pilihan memang tidak bisa ditampik, akan ada di suatu masa rasa bosan, lelah, dan kecewa terhadap pilihan, namun blajar bahagia terhadap pilihan adalah alternatif jalan untuk menjadi profesional.

Saat ini saya bekerja sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi. Ada beberapa kenyataan yang tak terduga sebelumnya bahwa mengajar itu adalah skill yang harus terus menerus dilatih. Saya menyukai kegiatan mengajar, meski dulu saya tidak pernah ingin menjadi guru. Saya juga pernah mengajar di semua tingkatan pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak sampai jenjang menengah atas. Ternyata tidak ada bedanya, bagi saya mengajar adalah seni untuk berbagi ilmu, pengalaman dan wawasan kepada siapapun orangnya, berapapun usianya.

Dulu, saya pernah ingin menjadi penulis. Saya memang suka menulis. Beberapa tulisan saya pernah dimuat di surat kabar dan buku antologi. Tapi saya belum bisa disebut penulis karena karya saya masih terbatas baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Saya menikmati kegiatan menulis. Menulis itu menjadi hiburan tersendiri bagi jiwa dan pikiran saya. Menulis adalah salah satu bentuk apresiasi diri yang jika tuisan tersebut dibaca banyak orang, maka akan menimbulkan kebermanfaatan yang lebih banyak lagi.

Alhamdulillah saat ini saya dikarunia 3 orang anak. Yang pertama baru berumur 6 tahun, yang kedua 4 tahun, dan yang ketiga 2 tahun. Ketiga anak saya saat ini masih sangat membutuhkan perhatian dan bantuan dari kami, orangtuanya. Saya sangat ingin menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya. Saya ingin mereka bangga dan bahagia karena memiliki ibu seperti saya. Untuk itu saya sering membaca artikel dan buku tentang parenting untuk menambah pengetahuan saya. Memang tidak ada sekolah untuk seorang ibu, namun di Ibu Profesional saya banyak belajar untuk menjadi seorang ibu yang profesional.

Menjadi ibu yang profesional untuk anak-anak, dosen profesional, penulis profesional merupakan harapan yang terus saya bangun. Untuk mencapai ketiga harapan itu saya membutuhkan ilmu manajemen waktu dan emosi. Manajemen waktu dan emosi adalah dua hal yang cukup krusial untuk dipelajari oleh para ibu, termasuk saya. Manajemen waktu diperlukan untuk mengatur agar semua kegiatan berjalan dengan baik, sementara manajemen emosi diperlukan untuk mengatur emosi yang sering naik turun akibat kondisi tubuh dan situasi yang dinamis.

 

Tantangan dan solusi

Hidup yang dinamis sudah tentu akan bertemu dengan tantangan. Untuk mencapai ibu, dosen, dan penulis yang profesional dibutuhkan ilmu manajemen waktu dan emosi. Saya termasuk orang yang suka belajar. Saya belajar dari mengamati orang lain, dari buku, artikel, dan sebagainya. Namun kadang saya menemukan antara teori dan praktik tidaklah sama. Beberapa teori begitu mudah untuk diungkapkan, akan tetapi tidak semudah mempraktikannya. Selain itu, di masa yang serba terbuka, di mana informasi dan didapatkan dengan mudah diakses, mesti harus bijaksana dalam memilah dan memilih mana informasi yang benar, mana yang sesuai dengan kondisi kita.

Lalu bagaimana menyikapinya? Di ibu profesional ada karakter moral Ibu Profesional, yaitu:

Always on Time, selalu tepat waktu, menghargai waktu

Never Stopped running, The Mission Alive, tidak pernah berhenti untuk terus melangkah menuju tujuan yang sudah ditetapkan.

I Know, I Can Be Better, menjadi pribadi yang berusaha untuk lebih baik dari hari ke hari

Don't Teach Me I Love to Learn,  memiliki semangat untuk terus belajar agar kualitasnya semakin meningkat.

Sharing is Caringpeduli terhadap orang lain dengan membagikan ilmu dan pengalaman yang didapatkan kepada orang lain

Kelima karakter moral tersebut bisa digunakan untuk menghadapai tantangan dalam mencari, menggali, dan membagikan ilmu. Saat malas sedang menghampiri, ingat bahwa waktu tak akan pernah kembali, ia akan terus melaju meski kita berhenti. Oleh karena itu kita harus terus melangkah, meski tertatih agar bisa lebih baik lagi dari hari ke hari. Saat terjebak dalam beragam informasi, ingat bahwa saya suka belajar sehingga tidak begitu saja menelan informasi yang didapat, namun ada proses critical thinkin. Terakhir ketika sudah mendapatkan ilmu kadang suka lupa membagikannya, ingat bahwa sharing is caring. Sedikit atau banyaknya ilmu dan pengalaman yang didapat, saat dibagikan akan menjadi berkah. Ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amalan yang pahalanya akan terus mengalir meski nyawa sudah tak lagi di raga.

 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih