Sunday, August 2, 2020

Menggenggam Semangat Baru, Menuju Bunda Sayang


Tabik pun,

 

Betapa senangnya saya ketika tahu bahwa saya lolos seleksi Bunda Sayang Batch #6 di Ibu Profesional. Pernah daftar di periode sebelumnya, namun kandas di awal. Saya sempat maju mundur ketika akan mendaftar lagi, berbagai pertanyaan melintas dipikiran. Bisakah saya mengikuti perkuliahan dengan baik? Apakah saya bisa mengerjakan semua NHW (baca: tugas) yang diberikan? Bagaimana jika saya mengalami kendala dalam perkuliahan? Dan pertanyaan yang paling sering muncul dalam benak saya, apakah saya bisa menerapkan apa yang saya dapatkan dari perkuliahan dalam kehidupan sehari-hari? Jangan sampai apa yang saya lakukan dalam proses perkuliahan hanya sebatas menggugurkan kewajiban. Akhirnya saya memantapkan hati. Sejatinya belajar itu di mana saja dan kapan saja. Namun ketika ada kesempatan untuk belajar bersama, lebih bersemangat pastinya. Bukan dalam rangka menduplikasi, tapi menemukan keunikan pada diri seorang ibu dan mengembangkannya. Lalu saya mulai merajut harapan. Semoga saya bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.

 

Merajut Ibu Profesional

 

Saya adalah seorang ibu dengan tiga orang anak, yang memilih untuk bekerja di ranah publik. Saya selalu berusaha keras untuk mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Namun pandemi Covid 19 sempat menghancurkan roda pengaturan waktu yang sudah saya buat. Selama ini saya menyelesaikan semua pekerjaan saya di kampus dan ketika saya saya sampai di rumah, saya fokus pada urusan rumah. Bertahun-tahun roda itu berjalan dengan baik. Tatkala wabah Covid-19 menyerang dan sulit dikendalikan. Kerja dari rumah membuat saya kehilangan arah, apalagi ditambah dengan belajar dari rumah. Saya merasa sangat terbebani karena semua terfokus di dalam rumah. Energi, pikiran, dan emosi menjadi terkuras. Kelelahan luar biasa terjadi pada saya. Namun saya bersyukur karena saya berada di Ibu Profesional. Kepenatan dan kelelahan itu bisa saya lerai satu demi satu dengan membaca postingan dan berinteraksi dengan member, baik di FBG maupun WAG Ibu Profesional.

 

Menjadi saya yang sekarang ini memang bukanlah perkara mudah. Butuh energi yang besar untuk menjalankannya. Namun kondisi dan kebutuhan setiap orang berbeda dan perbedaan itu, saya yang tahu. Apapun pilihan saya saat ini ataupun nanti, yang saya lakukan adalah dalam kerangka merefleksikan diri sebagai ibu yang profesional. Karena bagi saya, Ibu Profesional merupakan pengejawantahan dari usaha untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Cara-cara yang dilakukan berdasarkan potensi yang ada pada diri sendiri, dilakukan dengan ikhlas dan bahagia, yang didasarkan pada penghambaan terhadap Sang Pencipta.

 

Modal awal menuju Bunda Sayang

 

Critical Thinking

Bergabungnya saya di Ibu Profesional merupakan salah satu usaha untuk perbaikan diri, banyak informasi (baca: ilmu) yang saya dapatkan. Tentu saja di perkuliahan Bunda Sayang yang akan datang, lebih banyak lagi ilmu dan pengalaman yang akan saya dapatkan. Namun sebelum melangkah ke sana, kami dibekali beberapa materi, salah satunya critical thinking. Berpikir kritis atau critical thinking merupakan bekal penting sebelum kita menyerap sesuatu. Apakah informasi yang didapat baik? Apakah informasi tersebut benar? Apakah informasi itu bermanfaat. Menyaring informasi perlu dilakukan karena setiap individu memiliki kondisi yang berlainan. Selain itu tujuan yang ingin dicapai bukan untuk menduplikasi, akan tetapi mengambil hal-hal yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan seseorang. Baik, benar, dan bermanfaat merupakan koridor berpikir kritis, yang tidak sekedar menelan informasi bulat-bulat.

 

Self Talk

Cara yang bisa dilakukan saat menerapkan berpikir kritis adalah self talk atau bertanya pada diri sendiri. Mengenal diri sendiri adalah sebuah proses panjang sehingga tidak cukup dilakukan sekali. Kondisi diri secara langsung maupun tak langsung dipengaruhi oleh kondisi zaman. Zaman akan terus berubah dari waktu ke waktu. Menginvestigasi diri sendiri terasa asing bagi yang tidak terbiasa melakukannya. Kadang ego mendominasi diri sehingga apa yang sebenarnya dibutuhkan tidak muncul dipermukaan. Apalagi saat ini self talk masih jarang saya lakukan. Sehingga saya pernah merasa dalam kondisi yang sangat lemah, saat saya dihadapkan pada sebuah masalah. Saat itu saya tidak melakukan self talk, sehingga saya tidak berpikir kritis. Informasi yang saya dapatkan malah membuat semakin menyalahkan diri sendiri. Alhamdulillah, pada akhirnya saya menginvestigasi diri sendiri meski terlambat, saya memetakan masalah yang ada dan mencari berbagai alternatif solusi.

 

Langkah Baru, Semangat Baru

 

Ibu Profesional tidak mengubah seseorang menjadi orang lain, namun menggali potensi diri untuk menjadi diri sendiri. Tidak sekedar mencontoh orang lain atau menduplikasi, tetapi menciptakan model baru yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Ada beberapa hal yang akan saya lakukan untuk menjadi ibu yang profesional melalui Bunda Sayang, yaitu:

 

Meluruskan niat

Semua diawali dengan niat. Menjadi ibu yang profesional sudah pasti niatnya baik, untuk menjadi yang lebih baik. Namun jangan sampai niat tersebut tercemar oleh keinginan untuk dianggap paling baik.. Sesungguhnya apapun pencampaian berhasil diraih bukan karena kehebatan diri, melainkan karena karunia dari Sang Maha Pencipta.

 

Menggali potensi diri

Potensi diri terkadang tersembunyi, tertutup oleh lapisan malas, rendah diri, dan cemas yang tidak beralasan. Setiap orang pasti punya potensi yang berbeda dan menggali potensi diri hanya bisa dilakukan diri sediri.

 

Bersungguh-sungguh

Bersungguh-sungguh di setiap hal yang dilakukan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari setiap usaha. Di dalamnya juga terkandung makna fokus pada pencapaian tujuan.

 

Konsisten

Konsisten terhadap apa yang dilakukan terkait dengan tujuan yang hendak dicapai. Menjadi ibu yang profesional adalah sebuah proses yang panjang. Butuh konsisten untuk terus berada di lajur yang sama.

 

Mengevaluasi diri

Langkah-langkah dalam sebuah perjalan yang dilakukan akan meninggalkan jejak. Jejak itu juga perlu ditelusuri lagi untuk mengevaluasi sejauh mana pencapaian yang sudah dilakukan. Selain itu juga untuk melihat apa saja yang perlu ditambah atau dikurangi, bahkan diperbaiki agar langkah ke depan menjadi lebih bermakna.

 

Berkelanjutan

Menapaki jalan untuk menjadi ibu yang profesional tidak cukup hanya selangkah atau dua langkah. Langkah pertama, lalu langkah kedua, selanjutnya langkah ketiga, dan berlanjut terus pada langkah seterusnya. Ibu yang profesional selalu haus untuk belajar dan memperbaiki diri.

 

Menjalani dengan bahagia

Apapun itu jika dilakukan dengan bahagia maka akan terasa mudah. Belajar menjadi ibu yang profesional pasti tidaklah mudah. Sudah tentu akan berhadapan dengan beragam tantangan, bisa dalam waktu dekat atau waktu panjang. Menjalani semua yang dihadapi dengan bahagia bukan supaya terlihat bahagia karena bahagia adalah rasa bukan yang tampak kasat mata.

 

Membangun Istana Pasir

 

Istana pasir biasanya dibangun di tempat yang tidak terlalu dekat dengan bibir pantai tapi juga tudak terlalu jauh. Istana pasir bukanlah bangunan permanen. Desain istana pasir dapat diubah-ubah berdasarkan ide dan keinginan dari pembuatnya, yang akan terus berkembang sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman. Tentu saja untuk membangun istana pasir dibutuhkan pemilihan tempat yang pas, diwaktu yang tepat. Jangan sampai membangun istana pasir dikala hujan. Selain itu butuh suasana hati dan pikiran yang tenang dan ceria pada saat membangunnya. Alat-alat yang dibutuhkan perlu disiapkan sebelumnya, seperti sekop dan cetakan. Alat-alat itu bisa didapat dengan mudah, bagus atau tidaknya alat tidak terlalu berpengaruh pada hasil bangunan yang dibuat. Sama halnya belajar menjadi ibu yang profesional, ide desain, pemilihan tempat, waktu dan alat yang digunakan menjadi hak sepenuhnya si pembuatnya.


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih