Sunday, August 9, 2020

COC Institut Ibu Profesional dalam Pandanganku

 

Tabik pun,

Alhamdulillah saya berhasil melewati Wahana 1 Istana Pasir di Pra Bundsay #6 Institut Ibu Profesional, setelah itu dilanjutkan pada Wahana 2 Surfing. Surfing merupakan salah satu olah raga air yang penuh dengan tantangan. Kita harus berdiri di papan selancar, sementara ombak bergulung-gulung di bawahnya. Olah raga ini tampak mudah dalam pandangan, namun perlu teknik yang tepat untuk melakukannya. Tentu saja kita harus mengatur keseimbangan agar tidak jatuh ke dalam gulungan ombak. Sama halnya dengan berkomunitas, diperlukan panduan agar keseimbangan dapat terjalin kuat. Nah di Ibu Profesional ada namanya Code of Conduct  (COC) atau pedoman perilaku bermartabat. COC terkesan kaku dan berat, namun sebenarnya tidaklah demikian karena di Ibu Profesional semua boleh kecuali yang tidak dibolehkan.

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya di Menggenggam Semangat Baru Menuju Bunda Sayang, bergabungnya saya di Ibu Profesional merupakan salah satu usaha untuk perbaikan diri. Saya sejak sekolah menengah memang senang ikut menjadi bagian dari sebuah organisasi ataua komunitas. Bagi saya ikut dalam organisasi atau komunitas bisa memperkaya wawasan hidup. Mungkin bagi sebagian orang, niat utama bergabung dalam komunitas adalah untuk networking atau memperbanyak jaringan pertemanan. Tidak ada salahnya juga niat yang demikian karena kita akan bertemu dengan banyak orang sehingga relasi kita bertambah. Namun bagi saya tidak hanya sekedar itu, menjalin hubungan dengan banyak orang sejatinya bukan hanya untuk kepentingan dunia tapi juga akhirat kelak.

Berkumpulnya banyak orang dalam suatu komunitas tentu saja memutuhkan aturan dalam interaksinya karena sejatinya komunitas bukan kerumunan. Di zaman perkembangan tekonologi komunikasi yang semakin canggih, masuk keluar dalam grup adalah hal yang biasa. Saya tergabung di lebih dari 50 grup WA, belum lagi grup yang di Fesbuk, di Ig, dst. Saya sudah beberapa kali keluar dari grup karena tidak sepaham dengan interaksi yang dilakukan di grup-grup tertentu. Dalam berinteraksi, apalagi dengan banyak orang yang berbeda latar belakang, terkadang ditemukan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, yang membuat kegaduhan atau keresahan dalam grup. Di situlah saya kembali disadarkan bahwa sebuah aturan memang diperlukan untuk mengatur anggota dalam grup agar interaksi dapat berjalan dengan baik. Apalagi jika grup tersebut adalah grup besar seperti sebuah organisasi atau komunitas. Tapi aturan sejatinya dibuat untuk dilakukan ya, bukan untuk dilanggar.

Semua Boleh Kecuali Yang Tidak Boleh

Menurut COC Institut Ibu Profesional (IIP). Di Ibu Profesional semua boleh kecuali yang tidak boleh. Beberapa hal yang tidak boleh dilakukan, yaitu:

  • Bicara politik dan kritik pemerintah
  • Ghibah dan fitnah
  • Membicarakan SARAT (Suku, Ras, Agama, dan Anggota Tubuh)
  • Khilafiyah
  • Konflik kepentingan

Saya akan bahas di bagian bicara tentang politik dan kritik pemerintah. Saya tidak pernah protes ketika ada batasan bahwa tidak boleh bicara politik dan kritik pemerintah, sementara saya terbiasa melakukannya saat menonton TV, membaca koran, berdiskusi dengan teman, mengajar di kampus, dsb. Mengapa saya tidak pernah protes? Bukankah mengkritik pemerintah itu bagian dari partisipasi kita sebagai warganegara yang baik? Bukankah politik tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari?

Di dalam COC Institut Ibu Profesional ada penjelasan mengapa tidak boleh bicara politik dan kritik pemerintah. Di sana disebutkan bahwa lebih baik menyampaikan solusi kepada pihak yang membuat kebijakan, daripada membicarakan masalah dan keluh kesah kepada pihak lain yang sama-sama tidak bisa berbuat apa-apa. Kalimat itu awalnya mengganggu ‘sisi debat’ saya, namun setelah saya membaca secara keseluruhan COC, saya jadi mengerti bahwa larangan tidak boleh bicara politik dan kritik pemerintah ada kaitannya dengan konflik kepentingan. Ada tempat lain yang lebih pas untuk menyampaikan aspirasi, kritik, atau keluh kesah sebagai seorang warga masyarakat. Membicarakan persoalan politik dan pemerintahan di tempat yang kurang pas, hanya akan memperuncing perdebatan yang tidak berkesudahan (baca: debat kusir) dan hanya akan memunculkan konflik bukan solusi.

Selanjutnya tentang khilafiyah. Khilafiyah adalah perbedaan pandangan terhadapa sesuatu hal. Sementara dalam COC disebutkan khilafiyah merupakan perbedaan paham yang tidak berujung. Keberagaman di Ibu Profesional dijunjung tinggi karena anggota Ibu Profesional berasal dari beragam latar belakang dan berada dalam situasi yang tidak sama. Saya mendapatkan istilah baru, saat bergabung dalam Ibu Profesioanal. Ada istilah ibu yang bekerja di ranah domestik dan ibu yang bekerja di ranah publik. Sampai saat ini, perbedaan status ibu bekerja dan ibu rumah tangga menjadi perbincangan yang panjang. Namun dengan istilah ibu bekerja di ranah domestik dan ibu bekerja di ranah publik, menyamakan status ibu. Pilihan berada di mana bukan merupakan suatu masalah.

Pedoman Perilaku

Sementara itu dalam berperilaku di Ibu Profesional, ada tiga pedoman yang bisa dijadikan acuan, yang dicantumkan dalam COC IIP:

PERILAKU BERMARTABAT

adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan yang menaikkan tingkat harkat martabat kemanusiaan dan kemuliaan hidupnya.

BERBAGI DAN MELAYANI

adalah sikap yang dimiliki sejak awal ketika bergabung di komunitas adalah untuk berkontribusi baik secara material maupun immaterial. Bisa berupa ilmu,tenaga maupun pikiran, serta memiliki keinginan kuat untuk melayani yang lain.

 INTEGRITAS TINGGI

adalah perilaku yang menunjukkan moral karakter Institut Ibu Profesional secara utuh dan memegang kuat etika dalam kehidupan berkomunitas

Seorang ibu merupakan arsitek peradaban. Dari rahimnya akan lahir sosok yang akan melanjutkan generasi . Dari tangannya akan tercipta model generasi yang akan datang. Begitu pentingnya peran seorang ibu, sehingga perbaikan diri secara terus-menerus memang diperlukan bagi seorang ibu. Perannya tidak hanya sebatas dalam keluarga tapi juga untuk lingkungannya.

COC IIP dibuat  untuk tujuan normatif, preventif, dan kuratif. Normatif sebagai pedoman, preventif untuk pencegahan, dan kuratif sebagai cara untuk menjawab tantangan yang yang muncul. COC perlu ditanamkan pada anggota secara berkelanjutan dan dalam menegur atau memberi hukuman terhadap suatu kesalahan yang terjadi, adab dikedepankan karena perilaku bermartarbat menjadi hal yang utama.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih