Friday, July 26, 2019

7 Hal yang sering membuat ibu khawatir pada bayi

Lilih Muflihah

Tabik pun,

Senangnya menjadi ibu, apalagi saat bayi yang baru lahir ditaruh di atas dada, rasa sakit langsung hilang seketika. Namun menjadi ibu kadang butuh banyak penyesuaian. Banyak kondisi yang memang baru dialami seorang ibu. Kondisi bayi sering membuat ibu khawatir. Nah ini ada tujuh kondisi bayi yang sering membuat ibu khawatir, yang semoga bisa bermanfaat buat ibu semua.



1. Berat badan bayi turun setelah lahir.

Ternyata normal jika berat badan bayi turun  setelah lahir. Saya tahu itu setelah saya beberapa kali ikut seminar dan sering baca artikel di internet. Pada pekan pertama atau tujuh hari kehidupan, berat bayi akan menurun sebesar 7 sampai 10 persen. Kalau anak-anak saya memang berat badannya tidak ada yang turun di pekan pertama, hanya naik sedikit sekitar 1 ons. Namun teman saya pernah bercerita berat badan bayinya menurun setelah dilahirkan. Saat bayinya berusia dua peka, ia bawa ke dokter dan saat ditimbang beratnya sama dengan saat dilahirkan. Karena khawatir dia pun mengikuti saran dokter untuk menambah asupan bayinya dengan susu formula.

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya bahwa normal jika berat badan bayi turun setelah lahir. Penurunan itu diakibatkan karena bayi kehilangan cairan dan lemak melalui keringat, pipis, dan kotoran. Pada kasus teman saya, jika berat badan bayi pada pekan kedua sama dengan berat badan bayi saat lahir masih bisa dikatakan normal karena ada penurunan berat bayi pada pekan sebelumnya. Saya sih gak anti susu formula, tapi akan lebih baik jika kita menambah frekuensi ASI. Memang di masa awal setelah melahirkan adalah masa sulit beradaptasi. Bayi masih belajar untuk menyusu dan ibu baru juga masih belajar menyusui. Teruslah menyusui, jangan pantang menyerah meski mungkin merasakan  tidak nyaman saat menyusui. Sering-seringlah menyusui meski berat harus bangun berkali-kali di malam hari. Bukankah Air Susu Ibu adalah yang terbaik?


2. Wajahnya berjerawat

“Ih kok masih bayi sudah ada jerawat?” Kurang lebih begitulah pertanyaan seorang teman saat melihat bayi pertama saya. Dan bayi kedua dan ketiga saya pun ternyata muncul bintil putih seperti jerawat. Ternyata bukan masalah jika bayi berjerawat. Bintil di sekitar pipi, hidung, dagu, muncul disebabkan hormon ibu yang masih ada dalam tubuh bayi dan bisa terjadi sampai usia bayi 3-4 minggu. Bintil itu namanya Milia atau jerawat bayi. Eh kok saya jadi inget pacarnya Dilan ya. Itu mah Milea. Hehe…Nah don’t worry be happy, gak perlu penanganan khusus karena jerawat ini akan hilang dengan sendirinya saat bayi berusia 4- 6 bulan. Kalo bayi Q saat berusia 3 bulan, Milianya hilang. Untung Milia bukan Milea, kan kasian Dilan. Lho? Hehe..


3. Ubun-ubun berdenyut

Suatu ketika saya kaget melihat ubun-ubun bayi tante saya berdenyut, apalagi saat itu kepalanya masih gundul pelontos, jadi kebayang kan betapa jelasnya saya melihat ubun-ubunnya naik turn, berdenyut. Beberapa belas tahun kemudian saya menikah dan hamil. Saat hamil saya banyak membaca artikel tentang bayi dan tumbuh kembang anak. Jadi ubun-ubun bayi berdenyut itu karena belahan-belahan tulang tengkoraknya belum menyatu dan mengeras dengan sempurnaKira-kira setelah 2 tahun, denyut di ubun-ubun itu akan hilang.

Ketika anak-anak saya lahir tentu saja saya tidak kaget lagi melihat kondisi bayi dengan ubun-ubun berdenyut. Tapi seorang bidan pernah memberitahu saya bahwa jika ubun-ubun cekung, bisa jadi itu gejala dehidrasi dan jika kepalanya membengkak, harus segera diperiksa.


4. Bayi jarang pipis/ buang air besar meski sering minum ASI

Awal saya menjadi seorang ibu, banyak hal baru yang belum pernah saya temui dan rasakan. Memang benar ya, ketika ibu yang baru melahirkan banyak membutuhkan dukungan dari sekitar. Alhamdulillah bapaknya anak-anak selalu siap siaga membantu saya dalam segala hal. Banyak tantangan yang saya hadapi saat menyusi bayi pertama, apalagi saat bayi M lahir, air susu yang tak kunjung keluar selama tiga hari, bayi kesulitan menyusui, dan luka di sekitar puting yang sungguh membuat saya tidak nyaman. Namun tekad saya sudah bulat, bayi saya harus minum ASI.

Kemudian saat bayi M mulai lancar minum ASI, dibuat terkejut karena bayi M jarang pipis dan jarang buang air besar padahal dia banyak minum ASI. Saya khawatir sekali karena saya memang punya riwayat susah buang air besar bahkan pernah hampir  seminggu tidak buang air besar. Saya saja rasanya gak karuan apalagi bayi. Akhirnya saya bertanya pada seorang bidan kenalan suami dan jawabannya tidak masalah.

Bayi yang diberi ASI secara ekslusif pada umumnya jarang buang air besar dibandingkan dengan bayi yang diberikan susu formula. Bayi ASI memiliki frekuensi buang air besar yang lebih jarang dikarenakan kandungan ASI dimanfaatkan seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan bayi, sehingga sangat sedikit sisa yang dikeluarkan melalui buang air besar. Bayi ASI yang lebih jarang BAB masih dianggap normal jika frekuensi buang air kecil serta kenaikan berat badannya tidak bermasalah. Namun jika bayi tampak mengejan berlebihan saat buang air besar dan tekstur tinja keras maka harus segera periksa ke dokter atau bidan.

Bagaimana jika jarang pipis? Normalnya bayi pipis sehari bisa 4 kali sampai 6 kali, Meskipun jarang pipis misalnya hanya pipis 2 kali atau 3 kali selama seharian namun pipisnya lebih banyak. Perlu waspada jika bayi tidak pipis selama sehari semalam dan kalau pun pipis sangat sedikit serta berwarna agak pekat dengan bau yang menyengat. Bayi jarang pipis bisa jadi pertanda bayi dehidrasi atau kurang cairan. Oleh karena itu kita harus menambah frekuensi menyusi. Sebagai seorang ibu kita harus tetap memantau kondisi bayi, tidak perlu panik tapi tetap waspada. Lebih enaknya si bayi dipakaikan popok kain saja, jadi kita bisa mengecek berapa kali dia pipis.


5. Benjolan di kepala bayi

Suatu ketika sehabis memandikan bayi Q, saya mengelap bagian kepalanya dengan handuk alu saya usap usap menggunakan tangan sambil mengajaknya ngobrol. Kemudian saya merasakan ada benjolan kecil di kepala di atas telinga sebelah kiri. Pikiran saya mulai penuh pertanyaan, apakah bayi Q terbentur? Kapan? Apakah dia terbentur sesuatu saat saya memandikannya? Apakah Bayi Q terkena sesuatu saat bermain dengan kakak-kakaknya semalam?

Saat itu saya khawatir terjadi sesuatu dengan bayi Q karena seingat saya, tidak pernah menemukan benjolan seperti itu saat kakak-kakaknya masih bayi.  Sore harinya saya dan suami membawa Bayi Q ke klinik dekat rumah. Bidan yang menangani bayi Q hanya tersenyum dan berkata tidak apa-apa setelah dia meraba kepala bayi Q. Saya kurang yakin dengan ucapan bidan tersebut, “Bener Bu, gak apa-apa?” Lau dia pun menjawab: ”Kalo benjolannya dipegang bergerak dan gak sakit, ya gak apa-apa.” Setelah itu, saya pulang dengan masih menyimpan penasaran.


Saya pun akhirnya berselancar di internet, mencari tahu. Dari beberapa artikel yang say abaca dan dari sumber yang menurut saya terpercaya, benjolan di kepala bayi dan balita merupakan respons tubuh terhadap proses di badan. Jika benjolan terletak di bawah kulit, besarnya seperti kacang hijau, dipegang tidak sakit dan tidak melekat pada dasar alias bila dipegang bergerak, kemungkinan hanya pembesaran kelenjar getah bening karena ada infeksi. Saat bayi akan tumbuh gigi, ada alergi, atau ada demam biasanya ukuran benjolan sedikit membesar.Benjolan itu normal asakan ukurannya tidak membesar secara berkala atau dalam waktu singkat benjolan di belakang telinga atau kepala pada bayi dan balita kemungkinan besar adalah kelenjar getah bening yang sedang aktif. Namun jika benjolan cepat membesar maka sebaiknya dibawa ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut.

6. Keluar darah seperti haid

Setiap ibu pasti bahagia melihat bayinya lahir dengan selamat. Apalagi bayi yang dilahirkan sehat dan cantik. Tapi betapa terkejutnya ketika kita melihat ada cairan merah yang disertai lendir keluar dari kemaluannya. Jangan panik ya yang perlu kita lakukan,  ketika keluar cairan atau darah, bersihkan daerah vaginanya dengan lap halus  yang dibasahi dengan air hangat.

Jadi bayi perempuan bisa mengeluarkan darah seperti haid disebabkan karena hormon estrogen yang didapat dari ibunya sewaktu dalam kandungan. Dan biasanya akan berkurang dalam waktu 2 sampai 3 hari, bahkan ada yang sampai 3 minggu usianya. Namun jika cairan yang keluar menimbulkan bau dan tidak kunjung berhenti bisa  jadi tanda bahwa ada infeksi serius yang perlu penanganan medis lebih lanjut.


 7. Bayi sering menangis

Bayi menangis adalah hal yang wajar namun terkadang suara tangis bayi membuat suasana hati menjadi tidak nyaman bagi yang mendengarnya. Apalagi jika suara tangis itu terdengar di siang yang panas atau di malam yang larut. Sebensranya menangis adalah cara bayi berkomunikasi. Saat bayi lapar, haus, pipis, atau tidak nyaman, dia akan menangis memberitahukan ibunya. Namun kita harus waspada jika bayi tidak dapat ditenangkan atau diredakan tangisnya selama hampir satu jam, apalagi jika tangisnya disertai dengan demam, muntah atau ruam di beberapa bagian tubuh.


Menjadi ibu baru memang tidak mudah, tetaplah tenang saat menghadapi bayi menangis. Penuhi kebutuhan bayi kita. Bersabarlah dengan suasana baru. Kurang tidur sementara harus sering terjaga untuk menyusui, mengganti popok, bahkan untuk menyisir pun kadang tak sempat, membuat suara tangis bayi bisa menjadi masalah besar. Itulah mengapa penting dukungan dari semua pihak terutama orang terdekatnya suami atau orang tua. 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih