Thursday, March 14, 2019

Merangkai Mahkota Syurga dalam Hafidz Rumahan (Sebuah Resensi Buku)


Tabik pun,

Saya teringat kisah kemarin, saat rekan kerja yang juga adalah dosen saya, menyinggung tentang hafidz. Beliau bertanya pada peserta yang hadir dalam seminar hasil seorang mahasiswi, apa arti hafidz. Kok ya pas, saya memang sedang ingin menulis resensi buku, yang berkisah tentang keluarga penghapal Al Qur’an. Kemudian pikiran saya melayang, anak beliau bersekolah di sekolah Islam yang mewajibkan siswa-siswinya untuk menghapal Al Qur’an. Saya menerka-nerka, mungkin dia sedang menghapal juz 30 sekarang.


Saat ini, banyak orang tua yang ingin untuk menjadikan anak-anaknya hafidz dan hafidzoh. Saya pun demikian. Saya bisa membaca Al Qur’an dan hafal beberapa surat. Ayah anak-anak jauh lebih baik dari saya, dari segi membaca dan menghapal Qur’an. Masalahnya, kami tidak memiliki kemampuan untuk mengajari anak sendiri. Ternyata mengajari anak sendiri lebih banyak rintangannya daripada mengajar anak orang lain.  Hehe... Karena keterbatasan itu, kami pun berusaha mencari informasi sekolah yang pas, agar anak-anak bisa sekolah, sekaligus menghapal Al Qur’an. Ya mungkin itu juga yang dialami sebagian orang seperti kami.


Ayah dan ibu mana yang tidak bahagia jika anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Ayah dan ibu mana yang tidak bahagia melihat anak-anaknya bahagia. Ayah dan ibu mana yang tidak bahagia melihat anak-anaknya sukses. Namun sukses yang seperti apa yang diingikan atau kebahagiaan semacam apa yang ingin dirasakan, hanya ayah dan ibunya yang tahu. Takaran kebahagian dan kesuksesan bagi setiap orang berbeda, akan tetapi keluarga muslim pasti sepakat, bahwa takaran kebahagiannya adalah mendapatkan keridhoan dan keberkahan dari Allah SWT.

Sejak sebelum menikah sampai sekarang, saya selalu berdoa agar dikaruniai anak-anak yang sholeh dan sholehah. Saya banyak membaca buku untuk menambah pengetahuan tentang mendidik anak. Saya sadar bahwa mendidik anak tidaklah mudah. Kondisi setiap rumah tangga tidaklah sama, meski membaca buku yang sama atau mendapatkan informasi yang sama. Belum lagi kondisi eksternal rumah tangga, yang turut mempengaruhi kondisi internal sebuah rumah tangga. Sehingga orang tua memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga, merawat, dan mendidik anak-anaknya. Dan tantangan itu semakin lama semakin besar seiring perkembangan zaman.


Sampul Depan Buku Hafidz Rumahan.
Sampul Belakang Buku Hafidz Rumahan.
Banyak yang diubah oleh perkembangan zaman. Apalagi perkembangan teknologi, secara sadar maupun  tak sadar mengubah gaya hidup. Yang tadinya telepon hanya sebagai sarana untuk berkomunikasi, sekarang banyak hal yang bisa dilakukan dengan telepon seluler. Pasti kepanikan melanda tatkala telepon seluler tertinggal di rumah. Kulkas, televisi, mesin cuci, kompor gas, oven listrik menjadi hal yang lazim, bukan lagi dalam golongan barang mewah. Namun tak jarang perkembangan teknologi melenakan kita sebagai manusia, untuk beribadah pada Allah SWT. Nah, sepertinya situasi inilah yang terbaca oleh Abdurrohim. Sehingga dia dan istrinya, Siti Hajar, sepakat untuk saling membantu dalam upaya melaksanakan perintah Allah dan menjaga keluarga mereka dari murka Allah.

Abdurrohim atau Rahman Dalimunthe merupakan ayah dari Hasan Basri, hafidz cilik dari pulau Nias. Mudah mencari informasi tentang Hasan Basri di internet. Jika kita ketik di pencarian Youtube “Hasan Basri hafidz cilik dari Nias, maka kita bisa melihat dan mendengar suara merdunya saat melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Dan ternyata Hasan Basri bukanlah satu-satunya anak Abdurohim yang hafidz Qur’an. Anak Abdurrohim berjumlah 9 orang, 7 orang anaknya sudah menghafal 30 juz Al Qur’an di usia yang  6 sampai dengan 12 tahun, 1 orang meninggal dunia, dan 1 orang lagi sedang menghafal Qur’an. Allahuakbar!

Buku dengan tanda tangan penulisnya.
Neny Suswati menuliskan kisah keluarga Hasan Basri dalam buku Hafidz Qur’an Rumahan. Saya sungguh terharu membaca buku ini. Berulang kali saya berdzikir mengagungkan kebesaran Allah SWT. Anak-anak Abdurohim dan Siti Hajar tidak ada yang bersekolah formal, mereka  memilih mendidik anak-anaknya di rumah. Saya sungguh takjub dengan keteguhan Siti Hajar atau Sri Maharani Hasibuan atau biasa disapa Rani, dalam menjalani sebuah pilihan hidup dan kegigihan dalam mengajari anak-anaknya hingga bisa hafidz Qur’an.

Saya takjub dengan kesederhanaan mereka. Kesederhanaan itu membuat kehidupan mereka seolah tanpa beban. Tidak ada gadget, tidak banyak perabot, tidak banyak pakaian dengan corak dan warna, dan menjaga makan menjadikan beban hidup tidaklah terlalu berat. Iya sih, sebenernya yang membuat hidup itu menjadi berat adalah gaya hidup. Dengan gaji ratusan rupiah atau ratusan juta setiap bulan, pengeluarannya pada dasarnya sama saja. Untuk beli baju, makan, beli perabot, dan sebagainya, namun yang membedakan adalah gaya hidupnya. Bedalah ya, makan di cafe dengan makan di warteg atau makan buatan sendiri atau dimasakkan orang lain. Rasanya sama saja di lidah tapi rasa gayanya yang berbeda. Atau beli baju di Mall dengan beli baju di pasar tradisional. Sama saja beli baju juga, tapi mungkin model baju dan bahannya yang berbeda. Balik lagi deh ke gaya hidup. Dulu gaji sejuta bepergian dengan naik kendaraan umum oke aja tapi ketika gaji sepuluh juta merasa gak pantas lagi naik kendaraan umum. Hehe…

Dalam buku Hafidz Rumahan diceritakan bahwa Abdurrohim sekeluarga memilih hidup sederhana. Kehidupan mereka jauh dari penggunaan teknologi, pakaian mereka juga tidak banyak jumlah dan ragamnya, perabot rumahnya juga tak banyak. Hal tersebut bukanlah berarti mereka tak menyukai kesenangan namun lebih kepada menjaga ketaatan kepada Allah. Selain kisah Muhammad Rosullah S.A.W dan salafushsholih, kisah Nabi Ibrahim serta Ismail menjadi inspirasi bagi mereka. Sehingga Abdurrohim dan Rani memilih jalan hidup yang mungkin dianggap aneh bagi sebagian orang di zaman sekarang.

Nah apa sih yang menggerakkan Rani dalam mendidik anak-anaknya? Konsep Ibu adalah Madrosatul ‘ula, sekolah pertama dan utama bagi anak-anak. Jadi pendidikan dasar itu kuncinya ada di ibu dan pendidikan dasar yang paling penting adalah menanamkan keimanan. Keimanan diibaratkan seperti akar pohon, sebuah pohon akan tumbuh dan tegak berdiri karena akarnya yang menghujam ke tanah. Tantangan yang dihadapi adalah lingkungan. Bagaimanapun juga lingkungan membawa pengaruh pada anak-anak. Akan tetapi Rani memiliki cara sendiri untuk membatasi anak-anaknya bermain di luar.

Cuplikan isi buku Hafidz Rumahan.
Akidah anak sangat dipengaruhi oleh didikan orang tua. Peran ayah dan ibu sangatlah penting. Meskipun ibu adalah sosok terdekat dengan anak-anak, ayah merupakan pimpinan tertinggi di keluarga yang memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik istri dan anak-anaknya. Abdurrohim dan istrinya memiliki kesepahaman dalam hal mendidik anak. Mereka membuat kesepakatan bersama, bagaimana mereka menggerakkan seluruh anggota keluarga, untuk melaksanakan perintah Allah.

Bagaimana konsep pendidikan yang diterapkan dalam keluarga ini? Dalam buku Hafidz Rumahan dituliskan bahwa anak ibarat kertas, orang tuanyalah yang menulisnya. Apa saja yang dituliskan? Yang pertama, tauhid, lalu mencintai Rosulullah dan keluarganya, selanjutnya mengajarkan dan memahami Al Qur’an, serta menanamkan cinta dakwah. Selain itu, anak-anak diajarkan untuk mandiri dan membatasi bermain, jika ada kesalahan yang diperbuat anak, segera diperbaiki.

Kunci sukses dalam mendidik anak di keluarga ini adalah keyakinan akan kekuasaan Allah. Dalam keluarga, suami adalah qowwam atau pemimpin dan istri taat pada suami. Dalam mendidik anak harus istiqomah, sabar, kreatif, dan rela berkorban. Orang tua berkewajiban juga memberikan lingkungan yang mendukung. Dan yang tak kalah penting adalah amalan dan doa orang tua untuk anak-anaknya.

Buku Hafidz Rumahan ini, bagi saya merupakan pandangan dari sisi lain yang menceritakan bahwa kesederhanaan bukan berarti dilingkupi kesedihan. Bahkan sebaliknya, kebahgiaan selalu menyertai kesederhanaan itu. Dasar kecintaan pada anak-anak merupakan bentuk penjagaan orang tua dalam rangka menjaga keluarga  dari api neraka. Apa yang dilakukan Abdurrohim dan Rani bagaikan merangkai mahkota syurga. Buku ini menyadarkan bahwa bentuk kecintaan kepada anak, tak melulu tentang materi dan dunia. Menanam padi tentu akan tumbuh rumput namun jika menanam rumput tidak akan tumbuh padi. Mengejar akhirat pasti akan mendapat dunia. Dan kehidupan di dunia diibaratkan hanya sebagai rumput. Rangkaian kisah yang tertulis sungguh menggugah hati.

Namun ada sedikit kekurangan dari buku ini yaitu tampilan atau tata letak tulisan yang kurang baik dan kesalahan ketik. Selain itu gambar yang ditampilkan tidak berwarna. Meski demikian buku ini penuh inspirasi. Selamat membaca dan menemukan hikmah dari tiap kalimatnya.

Foto bersama Ummi Neny, Penulis Buku Hafidz Rumahan

Judul Buku : Hafidz Rumahan
Penulis Buku : Neny Suswati
Penyunting Buku : Rosidin
Penerbit Buku : AURA CV. Anugrah Utama Raharja
Cetakan : Februari 2019
Ketebalan Buku : XXVI I+ 200 halaman
ISBN : 978603

1 comment:

  1. MasyaAllah... Luar biasa kisah keluarga ini ya mbak. Semoga dipermudah dan istiqomah mencetak generasi qurani. Aamiin

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih