Sunday, March 31, 2019

5 Alasan Berada di FLP



Oleh Lilih Muflihah

Tabik pun,

Kali ini saya ingin berkisah tentang Forum Lingkar Pena (FLP). Mengenal FLP bagi saya bukanlah hal yang sebentar. Sejak SMA, saya sudah sering membaca cerpen di majalah Annida. Saya juga suka membaca buku-buku yang ditulis Mba Helvi Tiana Rosa dan Asma Nadia. Keinginan saya untuk bisa menulis cerita tumbuh mekar. Namun baru saat pertengahan kuliah, saya baru bisa bergabung dengan FLP Lampung, wilayah di mana tempat saya tinggal. Menjadi anggotanya tak serta merta membuat saya aktif dalam kegiatan FLP. Keikutsertaan saya dalam tiga tahun bisa dihitung dengan jari. Sehingga saya kurang mengenal dan dikenal para pengurus FLP. Kemudian tak disangka dan tanpa rencana, saya menjadi pengurus FLP Lampung. Sejak itulah rasa cinta yang ada semakin tumbuh subur. Meski sekarang tak lagi mengurusi FLP tapi hati saya masih tetap setia. Cie cie sekali ya? Ah memang iya kok . J


Rasa cinta bisa diutarakan dengan banyak cara, melalui bunga, coklat atau tulisan. Ya tulisan. Begitu banyak tulisan yang teruang dalam puisi untuk mengungkap cinta. Cerpen dan novel juga. Tapi rasa cinta kadang tak bisa diutarakan alasannya. Sulit juga saya menuliskan mengapa bisa mencintai FLP. Apa ya? FLP itu adalah organisasi kepenulisan. Banyak organisasi lain yang sama seperti itu, ya kan? Saya juga tidak punya alasan bergabung di FLP agar terkenal. Atau alasan lain agar bisa diakui sebagai aktivis, organisatoris. Gak lah ya. Meskipun demikian, saat ini saya tetap harus merangkai kata, setidaknya melukiskan alasan saya berada di FLP. J

Salah satu kegiatan FLP adalah mengadakan Pelatihan Menulis.
Doc. Instagram Aarafalesia

FLP mendorong untuk menulis

Banyak alasan seseorang menulis. Menulis karena hobi, terapi, uang, dakwah, ataupun tuntutan pekerjaan. Apapun alasan menulis sah-sah saja. Namun pertama kali saya mengenal FLP, saya meyakini satu hal bahwa menulis itu merupakan suatu bentuk eksistensi diri dan tulisan yang bagus adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Bahasa lainnya berdakwah melalui tulisan.
Berada di FLP, mendorong kita untuk menulis. Memang tidak akan serta merta membuat seseorang menjadi penulis terkenal. Misalnya saya nih, dulu belajar di FLP, menulis puisi, cerpen, resensi buku, dan sebagainya tapi setelah bertahun-tahun lamanya saya hanya baru menghasilkan beberapa karya saja. Saya juga masih jauh untuk dikenal sebagai penulis. Karena memang dari awal saya menganggap menulis hanya sebagai hobi yang tidak diberdayakan. Nah ini salahnya saya.

Seandainya kalau saya serius dalam menulis, mungkin saya sekarang sudah menyandang status sebagai penulis. Apakah kemudian saya meninggalkan FLP? Tidak. Saya memang tidak lagi menjadi pengurus tapi saya masih menulis sampai saat ini. Dan setiap mendengar kata FLP, ada dorongan yang kuat untuk terus menulis. Jargon Berbakti, Berkarya, Berarti, menjadi salah satu penyemangat.

FLP itu memberi pencerahan melalui tulisan. Dan di setiap kegiatannya akan mendorong anggotanya untuk menulis, tentu saja menulis tidak akan terlepas dari membaca. Untuk bisa menulis juga diperlukan banyak membaca. Banyak kegiatan FLP yang diadakan untuk meningkakan kualitas anggotanya. Proses lebih ditekankan dalam setiap kegiatannya. Tujuan menulis juga bukan untuk terkenal atau uang tapi lebih pada memberikan pencerahan, sementara popularitas dan uang menjadi bonusnya. Kalau kami pernah berkelakar, mari berbakti, berkarya agar berarti dan berduit. Hehe… Maaf jika ada yang tak berkenan. J

Berkumpul di mana saja dan dalam momen apa saja, bersama anggota FLP dan keluarganya.
Doc. Pribadi

FLP adalah rumah bagi penghuninya

FLP seperti rumah bagi saya. Tempat berkumpul, bercanda tawa, berkeluh kesah, berbagi sedih dan gembira. Sejauh manapun saya melangkah, saya pasti akan kembali ke FLP. Sebanyak apapun aktivitas saya, saya selalu merindukan kebersamaan di FLP. Saya sering merindukan berkumpul bersama, berbincang ringan tentang apapun mulai dari hal yang berat sampai yang remeh-temeh.

FLP itu berbeda dengan organisasi lain. Hubungan antar sesama anggota, tak mengenal batas usia, status, pekerjaan, dan sejenisnya. Bahkan struktur organisasi dibuat untuk mengendalikan organisasi saja tapi tidak untuk membatasi hubungan personal. Rasa kekeluargaan yang kental. Ukuwah Islamiyah, itulah yang terjalin. Alangkah nikmatnya berproses di FLP, bertanya pada siapa saja dan di mana saja, saling berbagi.

Layaknya rumah, di mana anggota keluarga berkumpul, meski ada yang bekerja atau sekolah di tempat lain, ikatan keluarga tak pernah putus. Seorang teman pernah berkata, kalau mau pergi ke suatu daerah, janganlah segan untuk mencari anak FLP, kita gak akan merasa sendiri. Karena rasa itu begitu kuat, bahkan ada juga yang bertemu jodoh di FLP. J

Saya bersama Helvi Tiana Rosa dalam acara yang diadakan  FLP Bandar Lampung.
Doc. Pribadi

FLP tempat berkumpulnya para penulis

Saya ingat ketika saya mengikuti acara FLP di Depok. Sudah lama sekali tapi saya masih ingat ketika saya bertemu dengan banyak sekali penulis, mulai dari penulis pemula sampai pada penulis terkenal. FLP memang tempat berkumpulnya para penulis. Mungkin di luar sana ada yang mengkritik bahwa banyak tulisan anggota FLP yang kurang atau tidak mutu. FLP merupakan organisasi yang anggotanya dari beragam latar belakang. Bahkan ada FLP Kids yang anggotanya anak-anak. Tapi gak perlu diragukan lagi sebenarnya, alangkah banyaknya penulis terkenal di FLP dengan tulisan yang berbobot.

Di FLP Lampung saja, jutaan karya sudah dihasilkan. Sebut saja Naqiyyah Syam, Ika Nurliana, Laela Awalia, Fadila Hanum, Desma Hariyanti, Agus Kindi, Angga Adhitya, Betty Permana, Suwanda, Jarwo, dan masih banyak lagi. Hasil karya mereka bisa dinikmati banyak orang. Apalagi jika kita bicara FLP secara keseluruhan. Helvi Tiana Rosa, Asma Nadia, Sinta yudisia, Afifah Afra, Benny Arnas, Irfan Hidayatullah, Izzatul Jannah, Habiburrahman El Siraji, Baim Lebon, dan masih banyak lagi penulis terkenal lainnya, hasil karya mereka tersebar di mana-mana bahkan sampai mancanegara. Menginspirasi banyak orang. Apalagi Taufik Ismail penah menyebut FLP sebagai anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia. Masyaallah.

Sejumlah kecil karya anggota FLP.
Sumber: https://sintayudisia.wordpress.com

Karya anggota FLP banyak diminati

Karya FLP banyak diminati. Cobalah cari di google, ketik karya para penulis FLP misalnya karya Sinta Yudisia, karya Benny Arnas atau karya Afifah Afra, akan muncul banyak sekali tulisan-tulisan mereka dalam bentuk buku dan lainnya. Bahkan ada juga penulis FLP yang tulisannya dimuat di Republika, Kompas, Jawa Pos, Lampung Post dan media nasional serta lokal lainnya. Keren kan?

Siapa yang pernah membaca buku Ketika Mas Gagah Pergi yang mengharu biru? Atau Ayat-Ayat Cinta 1 dan 2 yang kemudian disadur menjadi film?

Musyawarah Cabang FLP Bandar Lampung.
Doc. Pribadi 

Ada FLP di mana-mana

Kita bisa menemukan FLP di mana-mana. Jika suatu saat ada yang harus meninggalkan daerahnya, jangan khawatir. Cari saja FLP di mana tempat tujuan kita, kita bisa mengurus pindah keanggotaan. Dan jangan khawatir lagi karena kita akan diterima dengan senang hati di tempat baru. Padahal baru bertemu tapi serasa sudah lama sekali bertemu. Di Lampung saja ada FLP Lampung, FLP Metro, FLP Lampung Selatan, FLP Bandar Lampung, FLP Lampung Timur. Di Kalimantan Timur ada FLP Kalimantan Timur, FLP Kutai Kertanegara, Di Jawa Timur ada FLP Banyuwangi, Ada juga FLP Aceh, FLP Palembang, dll.

Lalu, kalau pindah ke luar negeri bagaimana? Jangan khawatir juga, ada FLP di luar negeri. Masak sih? Iya, sungguh. Ada FLP Mesir, FLP Yaman , FLP Turki, FLP Maroko, FLP Arab Saudi, FLP Hongkong, dan lain-lain.




“Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba blog dari Blogger FLP pada rangkaian Milad FLP 22Th.”

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih