Thursday, November 12, 2020

Menonton Televisi Bersama

 


Assalamualaikum.

Tabik pun,

 

Menjadi sahabat anak adalah harapan bagi setiap orang tua, termasuk saya. Sedih rasanya jika anak lebih memilih untuk berlama-lama dengan orang lain. Tentu saja saya harus menyediakan waktu untuk bersama anak-anak. Menyediakan waktu tidak sekedar menghadirkan diri secara fisik, akan tetapi menghadirkan juga sepenuh jiwa, pikiran, dan perhatian untuk bersama dengan anak-anak.

Membuat Cemilan Bersama

 


Assalamualaikum.

Tabik pun,

 

Tantangan Bunda Sayang zona 3 membuat saya terus belajar dan berlatih untuk menjadi ibu yang lebih baik. Menjadi ibu memang tidak ada sekolah formalnya. Menjadi ibu adalah keterampilan yang harus senantiasa diasah. Menjadi ibu adalah pengetahuan yang harus terus diperbarui. Saya memiliki keinginan agar bisa memberikan bekal masa depan dan memori yang indah untuk anak-anak. Saya menyadari bahwa ibu yang bekerja di ranah publik harus memiliki energi yang besar agar bisa menghadapai segala situasi. Karena tidak bisa dipungkiri, ada kalanya dihadapkan pada situasi yang sulit, sementara keputusan harus diambil segera. Setiap pilihan pasti ada risikonya. Saya harus berani menghadapinya.

Berbagi Kisah dan Rasa

 


Assalamualaikum.

Tabik pun,

 

Tantangan Bunda Sayang sebelumnya adalah komunikasi produktif. Dikatakan pada saat itu alasan komunikasi produktif ditempatkan pada tantangan yang pertama adalah karena komunikasi produktif adalah modal dasar untuk menuju tantangan-tangan berikutnya. Ternyata saya pun merasakannya. Pada zona 3 tantangan Melatih Kecerdasan Emosional dan Spiritual, bagi saya komunikasi menjadi hal utama untuk menyampaikan beragam nasehat dan pembelajaran bagi anak-anak.

Bermain Bersama Lagi

 


Assalamualaikum.

Tabik pun,


Sore hari adalah waktu yang pas untuk berkumpul. Biasanya di sore hari, setelah anak-anak pulang dari mengaji, anak-anak bermain di rumah sebentar sambil menunggu azan Maghrib berkumandang. Kadang-kadang mereka minta untuk disiapkan makan sore. Anak-anak terbiasa makan sendiri, termasuk anak yang paling kecil juga sudah mulai sering makan sendiri. Namun sesekali, saya menyuapi mereka secara bersamaan. Bukan karena saya tidak ingin mereka mandiri, akan tetapi kadang-kadang, anak-anak kurang berselera dengan makanan yang tersedia atau saya butuh ritme waktu yang cepat di kala tertentu.

 

Mengikuti tantangan bunda sayang kali ini, membuat saya banyak belajar. Apalagi pada zona ketiga ini, saya belajar untuk menjadi sahabat terbaik bagi anak-anak. Saya mencoba terus membangun kedekatan di antara kami. Kebersamaan dengan anak-anak tidaklah lama, seiring bertambahnya usia anak-anak, akan semakin jarang kebersamaan dengan mereka. Bermain bersama adalah cara paling mudah untuk menjalin kebersamaan itu. meskipun mereka juga butuh waktu untuk dibiarkan bermain sendiri. Seimbang dan tidak berlebihan dalam membersamai anak-anak, begitulah hasil perenungan saya.

 

Nama Kegiatan   : Sahabat, Cinta, dan Bahagia

Penasehat          : Abi

Ketua                 : Ummi

Anggota             : Mamas M (6,5 tahun)

                           Mbak M (5 tahun)

                           Adek Q (2 tahun)

 

Rencana

Bermain bersama anak-anak di sore hari. Saya akan menemani mereka bermain apa saja. Saya hanya akan melihat dan mendengarkan celotehan mereka dari dekat.

 

Aktual dan Kendala

Mbak M dan Adek Q sedang bermain


Saya sering meluangkan waktu untuk bermain bersama anak-anak. Anak-anak juga sesekali meminta secara khusus untuk ditemani bermain. Namun bermain bersama lagi kali ini sedikit berbeda karena saya hanya sebagai pengamat saja. Saya berusaha untuk tidak ikut campur dalam menyelesaikan perselisihan di antara mereka saat bermain. Biasanya saya suka reflek membantu menyelesaikan perselisihan di antara mereka.

Tidak ada kendala dalam kegiatan ini, anak-anak bermain bersama, sesekali bermain masing-masing. Sempat terjadi perselisihan karena adek mengacak-acak mainan yang ada. Mamas sempat menangis karena kesal lego yang sudah disusun diacak-acak oleh adek.

 

Refleksi

Anak-anak berhasil menyelesaikan perselisihan di antara mereka.

 

Ekspresi

98 % untuk kegiatan sore ini. Kami semua bahagia.

 

#harike7

#tantangan15hari

#zona3cerdasemosidanspiritual

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia

#familyproject

#sahabatterbaik

 

Tuesday, November 10, 2020

Bermain Bersama

 


Assalamualaikum.

Tabik pun,

 

Menjadi sahabat anak adalah harapan bagi setiap orang tua, termasuk saya. Sedih rasanya jika anak lebih memilih untuk berlama-lama dengan orang lain. Tentu saja saya harus menyediakan waktu untuk bersama anak-anak. Menyediakan waktu tidak sekedar menghadirkan diri secara fisik, akan tetapi menghadirkan juga sepenuh jiwa, pikiran, dan perhatian untuk bersama dengan anak-anak.

Senam Bersama


Assalamualaikum.

Tabik pun,

Zona 3 Melatih Kecerdasan Emosional dan Spiritual menggiring saya untuk lebih dekat lagi dengan anak-anak. Meskipun selama ini, saya selalu berusaha untuk menyempatkan waktu bersama anak-anak. Dulu, sebelum pandemi, saya meninggalkan semua pekerjaan di kampus saat saya pulang. Namun situasi pendemi memang membuat diri saya lebih cepat terbawa emosi. Mungkin karena efek kelelahan karena peran saya sebagai ibu dan sebagai dosen menyatu di dalam rumah. Alhamdulillah, seiring waktu berjalan, saya bisa mengatasinya sedikit demi sedikit.

Mengedit Foto Bersama Ummi

 


Assalamualaikum.

Tabik pun,

 

Berhadapan dengan situasi pandemi memang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Covid-19 tidak hanya menyerang kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa. Pandemi tidak hanya merusak keadaan ekonomi, tetapi juga keadaan sosial. Banyak perubahan yang serta merta harus dihadapi, salah satuya adalah perubahan pengaturan waktu bagi seorang ibu yang bekerja di ranah publik. Pekerjaan dan tanggung jawab menjadi beban yang berat karena tidak ada lagi batas pekerjaan ranah domestik dan ranah publik. Energi terasa terkuras saat harus mengelola emosi agar tetap waras.

Saat ini, saya hanya memiliki kewajiban untuk dua kali seminggu datang ke kampus, namun tugas saya sebagai dosen harus saya lakukan setiap hari di rumah. Beberapa orang menganggap, kalau saya di rumah berarti tidak bekerja. Padahal saat di rumah, pekerjaan menjadi berganda dan bertumpuk menjadi satu. Saya juga harus menghadapi kendala, kadang-kadang Adek M minta diantar pulang dari rumah Budenya, saat mengetahui saya ada di rumah. Mamas M dan Mbak M juga harus bermain di luar rumah saat saya sedang mengajar secara daring. Jika tidak, mereka penasaran dengan apa yang saya lakukan dan ingin pula ikut tampil secara daring.