Rabu, 18 April 2018

Mimpi yang Sempat Dilupakan (1)


Oleh Lilih Muflihah
Saat orientasi di kampus, kami diharuskan memasang karton berwarna jingga berukuran A4 yang bagian atasnya diberi tali sehingga bisa digantungkan di leher. Di karton tersebut harus tertulis nama lengkap, nama panggilan, dan cita-cita. Teman-temanku menuliskan cita-cita yang beragam, ada yang ingin menjadi birokrat, anggota dewan, pejabat, bupati, presiden, dan sebagainya. Sementara aku menuliskan Dosen sebagai cita-cita.

Bukan tanpa alasan aku menuliskan cita-cita itu. Dulu ketika SD, aku pernah mengirimkan biodata singkat ke sebuah majalah anak-anak. Aku lupa nama majalah itu  apalagi nama kolomnya tapi di kolom tersebut berisi biodata dan foto para pembaca setia majalah tersebut. Saat itu yang aku tahu dari ayah ku, dosen itu adalah pekerjaan yang luar biasa. Aku bahkan kagum sekali melihat gambar karikatur diriku di kolom tersebut. Aku digambarkan dengan menggunakan jubah hitam dan toga layaknya guru besar sambil membawa buku tebal dengan gambar latar rak yang berisi penuh buku di belakangnya. Melihat itu, Aku yakin sekali bahwa menjadi dosen itu hebat dan aku pasti bisa menjadi seperti itu meski awalnya aku tidak tahu dosen itu apa karena sebenarnya ayah ku yang merekomendasikan cita-cita tersebut.
Kemudian aku beranjak dewasa, seiring dengan pengetahuan dan keinginan ku yang bertambah, cita-citaku pun berubah. Aku ingin menjadi psikolog namun aku dihadapkan kenyataan ibu dan ayah tidak mengizinkan aku kuliah di tempat yang jauh. Sementara di dekat tempat tinggalku tak ada perguruan tinggi negeri yang memiliki jurusan psikologi. Sehingga kuliah di jurusan yang tidak pernah ada dalam daftar rencana hidupku selama ini menjadi pilihan ketimbang tidak kuliah. Rasa kecewa terpancar jelas di wajah dan tingkah ku. Aku tidak bisa berontak, hanya bisa pasrah. Keinginan merantau dan menjadi seorang psikolog harus aku kubur dalam-dalam.
Waktu terus berjalan, aku belajar untuk menikmati pilihan walaupun banyak rintangan yang harus dihadapi dalam menyelesaikan kuliah. Aku tidak ingin pengorbanan ayah dan ibu sia-sia. Mereka sudah bekerja keras untuk menyekolahkan ku. Aku tidak ingin berhenti di tengah jalan seperti mereka yang tidak berhasil meraih gelar sarjana meski sudah berlama-lama kuliah. Rasa cinta pada orang tua lah  yang membuat diriku bertahan. Itulah yang menjadi penyemangat untuk terus berkuliah di jurusan Ilmu Pemerintahan.
Para dosen, teman-teman, dan semua hal yang mewarnai kehidupanku di kampus pelan-pelan menyadarkanku untuk menerima kenyataan. Tidak mudah menyakinkan diri sendiri untuk membuat mimpi yang baru, menyusun rencana pengganti dari sebuah harapan yang tak tercapai. Namun lima tahun berhasil aku lalui dan aku pun akhirnya menyandang gelar sarjana dengan IPK yang memuaskan. Dengan semangat menggebu aku melamar pekerjaan di berbagai tempat. Yang ada dalam pikiranku kala itu, aku harus bekerja sehingga bisa menikmati uang ku sendiri. Aku ingin membuat ayah dan ibu bangga. Namun kembali kenyataan pahit harus aku terima, status pengangguran sepertinya tak ingin lepas dari diriku. Tak ada satu pun lamaran itu yang berbuah manis. Aku pun terserang krisis percaya diri. Aku merasa tidak berguna, bodoh, dan tampak tidak meyakinkan.
Aku tidak akan bisa bekerja di bank, karena aku jelek dan pendek. Aku tidak bisa jadi guru karena aku bodoh. Aku pun tidak bisa menjadi pegawai karena tak punya kemampuan. Aku adalah anak yang tidak berguna yang tidak tahu bagaimana berterima kasih kepada orang tua. Aku seharusnya bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan dan bisa menjadi contoh yang baik untuk adik-adikku namun apa yang terjadi aku hanyalah seorang sarjana pengangguran. Aku pun makin gemar menyalahkan diri sendiri.
Saat itu aku sungguh putus asa. Pernah suatu ketika ayah ku memintaku untuk melamar sebagai dosen di universitas tempatku menimba ilmu. Aku memang menulis surat lamaran dan mengirimkannya sebelum ada rekruitmen penerimaan dosen karena tiba-tiba aku teringat akan cita-citaku saat SD. Namun saat penerimaan dosen dibuka aku tidak melengkapi syarat-syarat yang diminta. Aku mengundurkan diri sebelum berperang dan hal itu membuat ayahku marah. Aku bukan bermaksud ingin membuat ayah kecewa tapi aku sungguh tak bisa menguasai diri. Saat itu aku merasa sangat tidak percaya diri. Tak ada kelebihan yang aku punya sehingga mungkin bisa diterima menjadi dosen, percuma saja aku mengikuti seleksi jika akhirnya ditolak lagi.
Syukurlah, dalam keadaan galau seperti itu, aku dikelilingi orang-orang yang baik. Ibu tak henti memberi pencerahan. Beberapa teman juga secara langsung maupun tak langsung memberikan motivasi. Sehingga aku tidak sampai melupakan Allah, Sang Maha Kuasa. Butuh kerja keras untuk bangun tengah malam, sholat dan berdoa. Butuh tenaga ekstra untuk melakukan ibadah yang tak sekedar menggugurkan kewajiban saja. Sering aku merasa hidup dalam ketidakadilan, teman-temanku begitu mudah menjalani hidup. Kuliah sesuai dengan jurusan yang mereka inginkan lalu dengan mudah mereka mendapatkan pekerjaan kemudian menikah dan memiliki anak. Aku bukan tidak bersyukur, aku mengakui semua nikmat yang Allah berikan tapi kesulitan yang aku hadapi rasanya begitu sulit untuk dihadapi.
Setelah lebih dari setahun menganggur, akhirnya aku bekerja sebagai guru paruh waktu di sebuah sekolah swasta. Awalnya aku hanya sebagai guru les pengganti, mengajar siswa-siswa SD, SMP dan SMA, kemudian beberapa orang memberi kepercayaan padaku untuk mengajar anak-anak mereka secara privat. Aktivitas mengajar inilah yang mendongkrak semangatku. Bertemu dengan banyak orang membuat pikiran ku semakin terbuka.
Takdir sepertinya menggiring ku untuk kembali pada mimpi yang dulu, saat berdecak kagum melihat diriku yang digambarkan sebagai sosok berjubah dan bertoga. Ibuku tanpa terduga memberikan penawaran yang luar biasa. Aku diminta untuk kuliah lagi, meraih gelar master. Sebenarnya aku senang namun malu mengakuinya. Selama ini ayah dan ibu sudah banyak berkorban untuk ku, rasanya tidak tega membiarkan mereka menguras harta benda demi menyekolahkan ku.
“Bukannya kamu dulu pengen jadi dosen?” Tanya ibu.
“Gak.” Jawabku berdalih.
“Dulu kan sampai dikirim ke majalah.” Ibu mengingatkan.
“Itu kan disuruh papah.” Aku kembali berkilah.
Kira-kira begitulah kurang lebih percakapan singkat kami. Ibu kembali mengingatkan ku akan cita-cita menjadi dosen namun aku mengelak untuk membicarakan hal itu. Entahlah, aku tidak tahu apa sebenarnya yang aku inginkan.  aku sering dihinggapi rasa khawatir akan masa depan. Aku selalu merasa sangat banyak kekurangan. Namun akhirnya ibu berhasil meyakinkanku untuk menerima tawarannya. Kata-kata ibu membuatku tidak berdaya. Ibu bilang ayah dan ibu adalah orang tua yang tidak bisa mewarisi harta untuk anak-anaknya, ayah dan ibu hanya bisa mewarisi ilmu. Berapapun harta yang dimiliki pasti akan habis namun ilmu yang dimiliki akan menjadi bekal sepanjang hidup.
Bersambung… ke bagian 2.
(Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog Penulis Kece, namun blog tersebut tak terurus. Sehingga saya memutuskan mempublikasikannya lagi di blog ini, dengan harapan lebih banyak orang yang membacanya dan terinspirasi. Semoga.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih