Rabu, 18 April 2018

MIMPI YANG SEMPAT DILUPAKAN (BAG. 2)


Oleh Lilih Muflihah
Bermodal sejumlah uang hasil penjualan tanah, aku bisa menjadi mahasiswa pasca sarjana. Akan tetapi efek samping dari aku kuliah, dinikmati oleh semua anggota keluarga di rumah. Seingatku, saat itu menu tahu tempe dapat ditemui sepanjang hari. Apalagi setelah membayar SPP, dampaknya begitu terasa, harus pandai mengencangkan ikat pinggang. Perbedaan yang lebih kentara adalah saat Ramadhan datang, tak ada kudapan ataupun makanan pembuka yang pasti hampir di semua rumah terhidang ketika berbuka. Kami hanya minum segelas teh, lalu sholat maghrib kemudian dilanjutkan dengan makan malam dengan menu tahu atau tempe. Menu daging ayam hanya kami jumpai saat pertama kali sahur.

Menjalani kuliah sambil bekerja tidaklah mudah, aku harus pintar menyusun strategi. Pekerjaan sebagai guru paruh waktu juga menuntut untuk menjaga profesionalisme kerja, jika tidak aku bisa kehilangan jam mengajar. Kadang aku harus berlari dari tempat mengajar ke kampus. Memang jarak tempatku mengajar dan kampus tidaklah jauh namun jika ditempuh dengan berjalan kaki butuh waktu yang cukup lama.
Di awal perkuliahan, aku hanya mengalami kesulitan mengatur waktu. Akan tetapi tantangan terbesar adalah saat menyelesaikan tesis apalagi para pembimbingku adalah orang-orang yang berkualitas dengan mobilitas yang cukup tinggi sehingga sulit mempertemukan mereka. Entah seberapa sering aku menangis bahkan pernah salah naik angkot karena pikiranku yang kacau. Aku juga mengalami sedikit putus asa karena tidak bisa menyelesaikan tesis dengan segera. Aku pun pernah ingin berhenti saja karena sulit mempertemukan para pembimbing dan penguji baik dalam seminar maupun ujian komprehensif. Sekali lagi, rasa cinta pada orang tua yang membuatku terus maju, aku tak ingin membuat mereka kecewa. Dan akhirnya aku berhasil meraih gelar master.
Saat ada penerimaan dosen di sebuah universitas negeri langsung aku sambut dengan antusias. Aku pun berhasil melewati seleksi berkas dan lulus dalam ujian tertulis. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku pantas menjadi dosen meskipun masih terbesit rasa khawatir di dalam dada. Aku sudah mempersiapkan diri dengan baik, mempelajari bahan-bahan yang akan diujikan, memperbanyak ibadah, dan meminta doa restu dari orang-orang yang aku hormati dan sayangi. Aku pasti bisa melewati tahap selanjutnya, tes mengajar dan wawancara apalagi aku punya kemampuan bahasa Inggris yang tidak dimiliki pesaingku.
Aku berusaha tampil percaya diri saat tes microteaching, apalagi power point yang aku buat menarik perhatian salah satu penguji. Beberapa pertanyaan aku jawab dengan baik namun ada beberapa pertanyaan yang tidak dapat aku jawab dengan sempurna. Setelah tes mengajar langsung dilanjutkan dengan tes wawancara tiba. Aku diwawancari oleh lima orang secara bergantian. Tiga orang pejabat fakultas dan dua orang pejabat rektorat. Aku merasa terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Semua hampir sama melontarkan isu yang menurutku sedikit memojokkan.
Mereka mempertanyakan komitmenku terhadap pekerjaan. Jika nanti aku menikah dan suami bekerja di luar kota, apakah aku akan pindah mengikuti suami. Kemudian jika memiliki anak, apakah nanti tidak akan mengganggu kinerjaku sebagai dosen, mengingat dosen memiliki kewajiban melakukan tridarma perguruan tinggi. Dosen tidak hanya sekedar mengajar tapi juga melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Saat itu aku berusaha keras meyakinkan para pewawancara bahwa aku akan melakukan yang terbaik namun setiap jawabanku terus disusul dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang hampir membuatku jemu. Dosen-dosen perempuan yang mengajarku dulu bisa melakukan tugasnya dengan baik. Lalu mengapa mereka meragukan aku? Mungkin itulah cara para pewawancara melihat kompetensi pelamar.
Tibalah saat pengumuman hasil seleksi penerimaan dosen dan aku kembali harus menelan kekecewaan. Aku sudah berusaha keras dalam seleksi tersebut bahkan menambah amal ibadah ku tapi mengapa keberuntungan tidak berpihak pada ku? Aku lebih berhak mendapatkannya. Pesaing ku adalah laki-laki yang tidak memiliki batas ruang gerak, masih memiliki orang tua yang lengkap dan sehat. Meski dia gagal, tidak akan berdampak apa-apa. Sementara aku memiliki ayah yang menderita stroke. Aku ingin membahagiakan beliau, aku sangat berharap bisa memberikan berita bahagia kepada beliau sehingga bisa turut mengobati sakitnya. Aku bahkan berkhayal menjadi dosen ketika SD. Mengapa Allah mengabaikan usaha dan doa-doa ku? Aku sungguh sedih dan semakin merasa tidak berguna. Aku hanyalah seorang pecundang yang kalah dalam pertarungan.
Ibu dan para sahabat ku sangat berempati. Mereka memberikan semangat dan  membesarkan hatiku. Aku berusaha keras menenangkan diri, menata kembali hati yang remuk redam. Setelah aku merenung beberapa hari sambil menumpahkan airmata diiringi irama isak tangis di tengah malam di atas sajadah, aku menyimpulkan sendiri bahwa apa yang terjadi adalah takdir dan takdir adalah kuasa Allah. Tak ada gunanya juga aku menyesali apa yang terjadi, toh semua itu tidak akan merubah takdir. Sebesar apapun usaha yang dilakukan jika Allah tidak menghendaki maka apa yang diharapkan tak mungkin terjadi.
Sepertinya takdir menggiring ku untuk kembali pada mimpi yang sempat dilupakan. Saat ini aku harus puas dengan pekerjaan ku sebagai dosen honor. Meski tidak banyak materi yang aku nikmati, aku dengan leluasa dapat berbagi ilmu kepada para mahasiswa ku. Mungkin aku tidak bisa merasakan kuliah di Malaysia tetapi aku sudah bisa merasakan mengajar mahasiswa yang berasal Malaysia. Aku memang gagal dalam seleksi penerimaan dosen negeri namun aku masih dipercaya untuk mengajar di tiga perguruan tinggi. Aku memang belum memiliki tempat berlabuh dalam pekerjaan, aku masih ke sana ke mari namun Allah pasti lebih tahu apa yang terbaik untukku.
Selesai.
Bagian pertama, baca di sini

(Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog Penulis Kece, namun blog tersebut tak terurus. Sehingga saya memutuskan mempublikasikannya lagi di blog ini, dengan harapan lebih banyak orang yang membacanya dan terinspirasi. Semoga.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar yang sopan ya :)



Jangan lupa follow IG @ummi_lilihmuflihah dan Twitter @UmmiLilih